Beerita.id – Siapatak mengenal Raden Saleh. Karyanya yang agung banyak menjadi kolektor bangsawan dunia. Pangeran Jawa bernama lengkap Raden Saleh Syarief Bustaman bin Yahya itu, merupakan salah satu generasi awal putra bangsa ini yang menimba ilmu di Eropa.

Di bawah bimbingan langsung pelukis Belgia Antonio Payen dan Pelukis Belanda A. Schelfhouf, Raden Saleh tumbuh menjadi pelukis kelas dunia. Sentuhan masterpiece­-nya banyak menjadi koleksi museum seni ternama dunia.

Foto id.wikipedia.org

Lahir dari keluarga bangsawan di Semarang, Jawa Tengah pada Mei 1811, Raden Saleh mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu ke Eropa. Di antara di Belanda dan Jerman. Di Negeri Panser itu, pelukis yang karyanya saat ini dihargaai miliaran itu memilih tinggal di Maxen, sebuah desa kecil yang dapat ditempuh dengan perjalanan selama satu jam dari Dresden.

Di Maxen, Raden Saleh tinggal di kastil tua milik Friedrich Anton Serre. Seorang bangsawan yang juga tuan tanah dan mantan wali kota. ”Jerman memberikan pengaruh besar pada karya Raden Saleh. Salah satunya tentang sentuhan karyanya yang romantis,” kata budayawan yang juga pelukis Hamid Nabhan.

Foto id.wikipedia.org

Hampir tujuh tahun hidup di Jerman (1839 – 1845), membuat Raden Saleh berutang budi pada Serre. Sebelum pulang ke Tanah Air, dia menuliskan kenangan pada Serre yang bertulis, “Kenang-kenangan untuk Mayor Serre dan istri, yang saya cintai dan hargai sebagaimana orangtua kedua saya.”

Bak gayung bersambut, Serre pun menaruh hormat mendalam pada pria yang membuat lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro tersebut. Bahkan, saking hormatnya, Serre membangun masjid kecil untuk Raden Saleh di Maxen.Masjid dengan gabungan arsitektur Jawa dan Timur Tengah itu didirikan pada tahun 1848. Raden Saleh kemudian menamakan masjid itu sebagai Masjid Biru. Pada bagian atas pintu, terdapat tulisan aksara Jawa yang berarti Hormatilah Tuhan dan Cintailah Manusia. (bee5)