Beerita.id – Kawasan Pegirian, Surabaya tidak hanya terkenal dengan makam Sunan Ampel saja, tetapi juga ada makam leluhur penyebar agama Islam lainnya. Yakni Sunan Boto Putih. Letaknya sangat berdekatan.

Foto : pixabay.com

Setiap hari ada saja peziarah yang datang. Jumlahnya berlipat saat Ramadan seperti ini. Ada yang berziarah, khataman Alquran, hingga berbuka puasa bersama. Selain itu, di tempat tersebut banyak orang yang menginap dalam waktu lama. Berminggu-minggu hingga bertahun-tahun. Tujuan utamanya mendalami ilmu agama ”Mereka datang dari luar Surabaya. Kami menyebutnya musafir,” kata Ustad Hanafi yang merupakan imam masjid sekaligus pengurus makam Sunan Boto Putih kemarin (11/5).

Para musafir datang dari berbagai daerah. Ada Probolinggo, Jogja, Magelang, dan kota-kota lain. Salah satunya Roni. Warga Jogjakarta itu datang sejak hari pertama puasa. Roni mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan pengurus langgar dan makam. Kalau malam, dia berkeliling masjid di sekitar Surabaya untuk mengikuti berbagai kajian. ”Pagi sampai magrib ya di sekitar area makam ini,” tuturnya.

Foto : pixabay.com

Takziah, menurut Hanafi, ramai setelah salat Tarawih. Hanafi biasa mengantar para peziarah mengelilingi makam-makam di sana. Selain makam Sunan Boto Putih, di area pemakaman itu ada makam-makam tua lainnya. Sebagian besar merupakan orang-orang berpengaruh. Misalnya, makam Sultan Banten Maulana Muhammad Sofiyudin. Juga, makam dua putra Sunan Boto Putih, Ongko Joyo dan Ongko Wongso.

Beberapa peziarah terlihat datang bersama keluarga. Sebagian lagi datang sendiri. Mereka kemudian menaburkan bunga dan berdoa. ”Sunan Boto Putih juga dikenal dengan sebutan Kiai Ajeng Brondong. Memiliki peran besar menyebarkan agama Islam pada abad ke-15,” jelas Hanafi.

Nurjazim, musafir asal Muntilan, menyatakan tinggal di makam itu selama tiga tahun terakhir. Sehari-hari dia mengikuti aktivitas pengurus makam dan masjid. ”Ya membersihkan makam, juga mempersiapkan buka puasa bersama,” kata Nurjazim. (Bee6)