Beerita.id – Dibutuhkan cara dan pengamatan yang jeli dalam mengelola daging kurban agar tetap berkualitas bagus dan terjamin halal. Hal itu yang menjadi inti sosialisasi teknik penyembelihan hewan kurban untuk takmir masjid di wilayah Surabaya yang digelar Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya kemarin (25/7).

Foto : pixabay.com

Sosialisasi tersebut tidak hanya diikuti laki-laki. Tampak barisan ibu-ibu turut mendengarkan sosialisasi yang disampaikan perwakilan dari Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jatim dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim. “Ibu-ibu ini yang nanti punya peran penting memilih daging yang bagus dan cara penyimpanannya,” ujar pemateri PDHI Jatim Asri Budi Utami.

Menurut dia, ditemukan banyak kasus daging kurban yang tidak layak konsumsi. Sumbernya berasal dari ketidakwaspadaan pemotong daging. Mereka asal memotong tanpa memperhatikan bahwa terdapat masalah di bagian organ hewan. “Paling banyak kami temukan ada cacing hati di hewan kurban yang akan dibagikan kepada warga,” imbuhnya.

Salah seorang peserta spontan bertanya bahwa banyak warga yang sukarela menerima bagian tubuh tersebut. Menurut mereka, saat dimasak, cacing bisa mati sehingga aman dimakan. Asri menegaskan, hal itu salah kaprah. “Cacing dewasanya mungkin mati, tapi yang ditakutkan adalah larva yang masih ada,” tuturnya.

Foto : pixabay.com

Untuk itu, Asri meminta takmir lebih tegas kepada warga. Terutama yang memaksa untuk mengonsumsi daging kurang sehat tersebut. Lebih baik daging dibuang. Tidak harus semuanya. Cukup bagian yang bermasalah. Jika dirasa sudah bersih, bagian yang tersisa bisa dikonsumsi.

Sementara itu, pemateri LPPOM MUI Moch. Khoirul Anam memaparkan cara penyembelihan yang sesuai dengan syariat Islam. “Harus dipastikan saluran napas, saluran makanan, dan saluran darah terpotong,” katanya. (Bee 7)