Beerita.id – Dalam dunia konstruksi dan golf, nama Ludy Eqbal Al-Muhammadi sudah tidak asing lagi. Perjalanan panjang meniti karir membentuknya menjadi salah satu tokoh konstruksi kaliber nasional yang mumpuni. Beberapa jabatan penting pernah dia sandang.

Pun di dunia golf. Meski bukan golfer professional, namun kecintaannya pada olahraga ayun stik itu cukup tinggi. Bahkan, menurut dia, dari golf dirinya menemukan kehidupan sekaligus penghidupan yang menyenangkan.

Awalnya, bagi pria yang lahir di sebuah desa kecil di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, 27 April 1966, itu, golf jauh dari jangkauannya. Setamat SMA di kota kelahiran, Eqbal merantau ke Malang untuk berkuliah di D-3 Teknik Sipil Universitas Negeri Malang.

Jalan hidup ayah enam anak itu rupanya diselimuti kemujuran. Setamat kuliah, tanpa sempat menganggur lama, dia diterima sebagai karyawan di PT Wijaya Karya (Wika). Dengan penempatan pertama di Nanggroe Aceh Darussalam. ”Sembari bekerja, saya meneruskan kuliah S-1 di salah satu universitas swasta di sana,” jelasnya.

Karirnya di PT Wika cukup moncer. Beberapa proyek besar sukses dia tangani. Setelah lima tahun bertugas di Aceh, dia mendapat promosi ke Medan. Tak lama, dia lagi-lagi harus kembali ke Aceh karena Wika mendapat proyek besar berupa perbaikan bandara.

”Saya ditarik lagi ke Aceh gara-gara saya bisa berbahasa Aceh. Saat itu masih ramai-ramainya GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Mungkin proyek itu membutuhkan orang yang bisa berkomunikasi dengan bahasa Aceh sekaligus menguasai teknik konstruksi,” ujarnya.

Proyek tersebut sukses di tangan Eqbal. Dia kembali mendapat promosi, kali ini ke Jakarta. Nah, di ibu kota itulah dia berkenalan dengan golf. Ini terjadi karena pekerjaan Eqbal sudah termasuk level menengah. Sehingga oleh perusahaan dia diminta belajar golf agar bisa meng-entertaint klien. ”Lobi bisnis lewat golf itu luar biasa pengaruhnya,” ungkap dia.

Eqbal (paling kanan) bersama rekan sejawat, termasuk Ito Sumardi (kiri)

Ternyata, harapan dan kepercayaan perusahaan dia jawab dengan baik. Apalagi, sejak dia menekuni golf, jumlah kliennya terus meningkat. Proyek yang didapat pun termasuk proyek dalam skala besar. Tak heran, pada 2000 dia mendapat promosi lagi, yakni diangkat sebagai kepala cabang Wika di Riau. ”Waktu itu usia saya baru 34 tahun. Alhamdulillah, saat diangkat, saya menjadi kepala cabang termuda perusahaan BUMN,” ucapnya.

Di Riau kecintaannya pada golf semakin menjadi-jadi. Apalagi sejak dia berkenalan dengan para pejabat dan tokoh masyarakat seperti Jenderal (Pur) Ito Sumardi (mantan Kabareskrim) yang kala itu menjadi Kapolda Riau dan Jenderal Sutarman yang saat itu menjabat Kapolda Kepulauan Riau. ”Beliau-beliau itu senang golf. Terutama Pak Ito. Makanya, di kepengurusan klub kami, beliau kami daulat menjadi pembina,” jelasnya.

Di tengah karirnya yang sedang menanjak, pada 2004 atau saat berusia 38 tahun, Eqbal mendadak memutuskan untuk pensiun dini dari Wika. Kenapa? ”Awalnya memang menimbulkan tanda tanya dan mengagetkan banyak pihak. Kantor juga menahan saya karena saya diproyeksikan jadi direktur. Tapi, suara hati saya tidak bisa berbohong. Saya ingin bebas dan ingin punya usaha sendiri,” ungkapnya.

Selalu fokus dan menatap positif adalah visi hidupnya

Dengan memiliki usaha sendiri, Eqbal merasa lebih sukses menjadi seorang manusia. Dia bisa lebih banyak membantu orang sekitar dengan merekrut mereka sebagai pegawai. Usaha yang dipilih saat itu tak jauh-jauh dari keahliannya selama ini, yakni di bidang konstruksi.

Selain suara hati, hal yang membuat dia nekat mendirikan usaha adalah dukungan teman-teman golfernya. Mereka, kata Eqbal, sudah sering memercayakan proyek-proyek besarnya kepada dirinya. ”Itulah salah satu hal yang saya syukuri sampai saat ini karena saya berkenalan dengan golf. Golf membantu mewujudkan cita-cita saya untuk memiliki usaha mandiri,” terang pemilik golf handicap 20 tersebut.

Berbarengan dengan pendirian usaha sendiri itu, Eqbal juga mendirikan klub golf yang dia beri nama Construction Engineering Professional Association (Cepa). ”Nama itu dipilih karena yang bergabung di klub pada awalnya adalah mereka yang berprofesi sebagai pekerja di bidang konstruksi. Tapi, tak lama kemudian klub juga menerima masyarakat umum,” jelas Eqbal yang kini menjadi Dewan Penasehat Cepa.

Hingga kini Cepa telah memiliki ribuan member di seluruh Indonesia. Mereka punya latar belakang profesi beragam. Ada yang pengacara, politikus, polisi, seniman, hingga teknokrat. ”Hampir setiap Kamis kami turun di beberapa lapangan golf untuk main bareng,” jelasnya.

Dalam perkembangannya, Cepa tidak hanya mengurusi jasa konstruksi dan klub golf. Cepa Group merambah bisnis yang lain, di antaranya koperasi, penerbitan majalah khusus golf dan lifestyle, serta lawfirm. Khusus yang terakhir itu, dia banyak dibantu anggota klub yang ahli soal hukum.

Dari perjalanan hidupnya tersebut, Eqbal menegaskan bahwa kesuksesan diraih karena dirinya mengikuti kata hati. ”Walau orang menentang, asal kita yakin, insya Allah hasilnya akan maksimal,” tuturnya.

”Yang juga penting, perluas pergaulan di mana pun kita berada. Kalau hobi golf ya perluas pergaulan di sana. Karena bisa saja kehidupan dan penghidupan kita berasal dari situ. Tapi terlepas dari itu semua, persahabatan harus dijalin dengan niat tulus. Karena bagaimanapun, persahabatan adalah nomor satu,” tandas Eqbal.

Di bidang konstruksi Eqbal dipercaya menjadi ketua umum Astekindo (Asosiasi Tenaga Teknik Konstruksi Indonesia). Visinya adalah mempersiapkan tenaga teknik konstruksi yang mumpuni dan berdaya saing global.

Tak hanya itu saja, terbaru Eqbal juga mendapat amanah menjadi Ketua Umum IKA Polinema (Ikatan Keluarga Alumni Politeknik Negeri Malang). Menurut Eqbal, ada tiga hal pokok yang akan dia maksimalkan dalam kepemimpinannya. Pertama adalah membangun jaringan yang baik antar alumnus, memperkuat kerjasama dengan pihak kampus, serta terakhir adalah meningkatkan kualitas hubungan antar civitas dengan berbagai instansi terkait.

Eqbal saat menandatangani keputusan Munas IKA Polinema yang mendaulatnya menjadi Ketua Umum

”Semua bisa dicapai dengan niat tulus dan rasa persahabatan yang tinggi,” jelasnya. (Bee 1)

Tentang Eqbal

  • Direktur Utama PT Cepa Media Citra
  • Komisaris PT Karya Tiga Insani
  • Direktur Utama PT SKIM (Sertifikasi & Kompetensi Mandiri)
  • Komisaris Utama PT Fanitra Indotama