Beerita.id – Operasi saraf pada Kamis tanggal 19 September 2019 (19-9-19), sekaligus menandai pengubahan nama Comprehensive Brain and Spine Centre (CBSC) Surabaya menjadi Kortex Comprehensive Brain Spine, demikian penjelasan founder, dr. Agus C. Anab, Sp.BS atau yang biasa disapa ACA .

Pengubahan nama ini sebagai respon terhadap pesatnya teknologi komunikasi dan pengembangan pelayanan kesehatan. Dimana nantinya diharapkan pelayanan lebih dekat dan mudah di akses oleh masyarakat.

Secara global saat ini dunia telah mendorong pelaksanaan konsep revolusi industri 4.0, dimana pelayanan kesehatan pun sudah masuk pada otomatisasi. Kortex Comprehensive Brain and Spine Surabaya saat ini semakin mendekatkan layanan kesehatan terhadap pasien dengan memanfaatkan teknologi digital seluas luasnya.

Tim dokter saat melakukan operasi. FOTO : Istimewa

Saat ini Kortex telah membangun aplikasi layanan kesehatan. Pasien dari berbagai wilayah baik di dalam dan di luar negeri bisa memanfaatkan sistem ini tanpa harus datang langsung ke Surabaya. “Menggunakan aplikasi, pasien bisa melakukan komunikasi langsung dengan para dokter ahli di Kortex,” tutur dr. ACA.

Kortex juga akan mengembangan platform layanan kesehatan untuk edukasi, pencegahan penyakit dan penyembuhan pasien. Platform standar ini akan menjadi landasan kerja sama dengan berbagai rumah sakit dan dokter ahli bedah saraf di seluruh Indonesia bahkan ke luarnegeri. “Saat ini Kortex sudah ada di Surabaya dan Malang,” tegasnya.

Tim dokter selalu berusaha memberikan yang terbaik

Setelah soft opening, Kortex akan memperluas jaringan kerja sama dengan rumah sakit di seluruh Indonesia dan luar negeri. “Jika selama ini rumah sakit di Indonesia dijadikan mitra dengan menggunakan manajemen kesehatan dari luar negeri, sebaliknya Kortex akan menjalin kerja sama dengan rumah sakit di luar negeri menggunakan menejemen kesehatan dari Kortex,” kata dr. ACA.

Lebih dari itu, sudah waktunya bagi Indonesia untuk mengubah kesan bahwa selama ini untuk urusan kesehatan warga lebih memilih layanan di luar negeri, “Kita sudah mampu memberikan layanan sendiri. Tidak harus jauh-jauh dan membutuhkan biaya besar untuk penyembuhan penanganan kesehatan khususnya dalam berbagai penanganan gangguan. (Bee 3)