Beerita.id – PT Pertamina EP Asset 4 Cepu Field tak mau ketinggalan merayakan Hari Batik yang diperingati tiap 2 Oktober. Kali ini, perusahaan berusaha mewujudkan pengembangan batik ramah lingkungan dalam bentuk pemberian bantuan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Batik kepada Pengrajin Batik Pratiwi Krajan. Pengrajin yang berada di Kelurahan Ngelo Kecamatan Cepu Kabupaten Blora Jawa Tengah itu memang menjadi salah satu binaan Pertamina EP.

IPAL tersebut nantinya juga akan dibangun di Kelompok Batik Manggar di Desa Sumber Kecamatan Kradenan Kabupaten Blora. IPAL merupakan strategi dan sistem yang dirancang untuk mengatasi isu kesehatan, produksi bersih, dan ramah lingkungan.

Cepu Field Manager Afwan Daroni menjelaskan,  IPAL dibangun dengan kapasitas limbah cair sebanyak 20 M3 atau setara dengan 400 potong kain batik. Sistem pengolahan limbah mencakup ilmu Kimia, Biologi dan Fisika menggunakan biofilter dan arang. 

“Dimana air limbah yang dibuang ke lingkungan, mengikuti Permen KLHK nomor 5 tahun 2014 tentang ketentuan baku mutu air limbah industri tekstil,” ungkapnya.

Selain bangunan fisik IPAL, Cepu Field juga memberikan pelatihan pengoperasiannya serta pengolahan daur ulang malam bekas bekerjasama dengan Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta.

Sebanyak 20 orang peserta dari tiga  kelompok pengrajin binaan Pertamina mengikuti pelatihan tersebut,  di antaranya dari Kelurahan Ngelo Kecamatan Cepu, Desa Sumber Kecamatan Kradenan dan Desa Nglebur Kecamatan Jiken.

“Kita targetkan penggunaan daur ulang malam sampai 98% sehingga mendapatkan sertifikat industri hijau. Nantinya bisa menjadi batik ramah lingkungan,”  ujarnya.

Ketua Kelompok Batik Pratiwi Krajan, Pancasunu Puspitosari, merasa sangat bersyukur dengan bantuan dari program Corporate Social and Responsibility (CSR) Pertamina EP Asset 4 Cepu Field.  “Ini tentu sangat bermanfaat untuk kebutuhan industri batik rumahan,” ungkapnya.

Selama ini, lanjut dia, sudah ada bak limbah sederhana. Namun dengan berjalannya waktu, kualitas baku mutu air untuk dibuang ke lingkungan sudah mulai menurun seiring dengan banyaknya jumlah batik yang diproduksi.

“Dengan dukungan tersebut, kami merasa tak canggung lagi kepada lingkungan masyarakat, terutama persoalan limbah. Justru kami bisa menunjukkan kepada masyarakat bahwa batik yang diproduksi sudah ramah lingkungan,” terangnya.

Sebelumya di tahun 2017 kelompok Batik Pratiwi Krajan juga sudah mendapatkan pelatihan Clean production meliputi kesehatan dan keselamatan kerja pengrajin batik, penghematan air, energi (menggunakan kompor listrik), dan penghematan bahan baku sehingga diharapkan pelestarian budaya batik ini tetap memperhatikan lingkungan.

Lebih lanjut Afwan Daroni menyampaikan bahwa IPAL tersebut sudah sesuai dengan standar dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. “Ini bisa menjadi percontohan IPAL Batik di Wilayah Kabupaten Blora,” tutupnya. (Bee 3)