Beerita.id – Hari selanjutnya, usai menyelesaikan sarapan, kami berkumpul di lobby hotel untuk menuju Yerussalem. Tapi sebelumnya kami harus memasuki Eilat, wilayah Israel. Perjalanan dengan bus dari Taba ke Eilat hanya 30 menit. Seperti biasa, harus melewati imigrasi, sedang Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel.

Namun saya tenang saja, karena pendamping tur mengatakan sudah melengkapi semua berkas yang diminta. Di tempat ini pula saya berpisah dengan Alladin karena saat di Israel, tour guidenya sudah berganti orang.

Pemeriksaaan di security checking  berjalan lancar. Seperti nasihat tour guide, kami benar-benar menghindari pembicaraan yang menyangkut terorisme, penganut garis keras agama tertentu, dan memotret pos penjagaan di perbatasan, dan kantor imigrasi.

Di depan Dome of The Rock

Semua wilayah tapal batas dengan tetangga dikuasai Israel, negara yang dibentuk tahun 1948. Turis yang masuk atau keluar lewat Yordania pun harus berhadapan dengan Imigrasi Israel dengan pengamanan yang ketat. Selama peziarah mematuhi aturan, tak ada hambatan yang dihadapi. Sebaliknya, para tamu justru diperlakukan dengan ramah.

Suasana Kota Tel Aviv, Israel

Kota suci yang dikuasai Palestina hanya Bethlehem dan Yerikho. Yerusalem timur, yang diklaim sebagai wilayah Palestina, kini dalam penguasaan Israel sejak perang enam hari tahun 1967. Kota Narazareth, Kana, Kaparnaum, dan Danau Galilea, dan Gunung Tabor, dikuasai Israel. Tapi, untuk urusan pariwisata, biro perjalanan di Israel, Palestina, Mesir, dan Yordania bahu-membahu.

Palestina, Israel, Mesir, dan Yordania adalah holy land bagi umat Kristen, Yahudi, dan Islam. Di keempat negara ini para nabi pada masa lalu melintas dan tinggal.

Berpose di depan Tembok Ratapan

Tidak seperti Israel dan Palestina, Mesir dan Yordania mudah dijangkau lewat jalur udara. Umumnya peziarah mudah memperoleh visa Mesir dan Yordania. Tetapi, peziarah yang hendak ke Palestina dan Israel umumnya lewat Yordania atau Mesir. Setelah menggunakan pesawat, peziarah harus menempuh jalan darat, baik lewat perbatasan Mesir dan Israel maupun lewat perbatasan Yordania dan Israel. Saat ini, wilayah perbatasan sepenuhnya dalam kontrol Israel.

Bersama kawan baru, seorang pemeluk agama Yahudi

Namun, para peziarah yang hendak ke Israel dan Palestina mendapatkan kemudahan. Visa diberikan dalam lembar yang terpisah dari paspor. Para pemandu wisata lokal dengan senang hati membantu. Biro perjalanan sudah menjalin hubungan dengan agen lokal. Mereka sadar, kedatangan para tamu berdampak signifikan terhadap perekonomian.

Hari ke tujuh dalam perjalanan ini destinasi kami adalah Bethlehem dan melihat gereja tempat kelahiran Yesus, serta mengunjungi Masjid Umar. Masjid ini dibangun pada masa kekuasaan Dinasti Ayyubiyah pada abad ke-12 untuk mengenang pengambilalihan kepemimpinan Yerusalem pada masa Khalifah Umar bin Khaththab.

Kisahnya, pada tahun 638 M, setelah beberapa tahun wafatnya Nabi Muhammad, tentara Islam mengepung Kota Lama Yerusalem. Patriark Gereja Makam Kudus, Sophronius, menyerahkan kota itu setelah kepungan yang singkat. Hanya terdapat satu syarat yaitu pembicaraan mengenai penyerahan itu harus dilakukan Umar sendiri, khalifah kedua umat Islam.

Umar memasuki Yerusalem dengan berjalan. Tidak ada pertumpahan darah dan tidak ada pembunuhan oleh tentara Islam. Barang siapa yang ingin meninggalkan Yerusalem dengan segala harta benda mereka, dibenarkan berbuat demikian. Barang siapa yang ingin terus tinggal dijamin keselamatan nyawa, harta benda, dan tempat beribadah mereka. Semua ini terdapat dalam Perjanjian Umariyya.

Umar kemudian menemani Sophronious ke Gereja Makam Kudus dan ditawarkan untuk shalat di dalamnya. Namun Umar menolak karena ditakutkan dapat membuat umat Islam memiliki alasan untuk mengubah gereja tersebut menjadi masjid di kemudian hari sehingga Umar memilih shalat di luar di sebelah timur gereja.

Tur dilanjutkan ke Hebron untuk mengunjungi Makam Nabi Ibrahim, Nabi Yakub, Nabi Yusuf, dan Nabi Ishaq. Kesohoran Bukit Zaitun menuntun kami juga untuk mengunjunginya. Letaknya berada di sebelah timur dan berdekatan dengan Kota Tua Yerussalem. Dinamakan Bukit Zaitun dikarenakan ada kebun zaitun yang pernah menutupi lerengnya.

Suasana petang hari di Laut Mediterania

Sebagai muslim, berada di Yerussalem tentu tidak lengkap rasanya jika belum menunaikan sholat di Masjidil Aqsa. Di dalam kompleks yang sama terdapat juga Masjid Dome of The Rock, Masjid Qibli, Masjid Buroq, Masjid Qodim, dan Masjid Marwani.

Pemandangan di sana sungguh indah. Pada malam hari, cuacanya cukup dingin.

Di Masjidil Aqsa saya sempat terkena masalah. Yakni memegang salah satu buah yang ternyata tidak boleh disentuh oleh tangan secara langsung. Akibatnya tangan saya gatal sekali. Karena tangan sempat memegang pipi, tak ayal pipi juga gatal. Padagangnya langsung lihat dan berkata, “Hai, jangan dipegang. Saya saja menggunakan sarung tangan,” katanya. Tapi, apa boleh buat, sudah terlanjur. Untung, dia juga memberi saran agar gatal-gatalnya hilang, diberi garam.

Mengunjungi Petra, sebuah destinasi menarik yang kerap digunakan sebagai lokasi syuting film Hollywood, Indiana Jones salah satunya

Keesokan harinya kami lanjut menuju border di Allenby untuk memasuki wilayah negara Yordania. Namun, sebelum itu, sempat pula mengunjungi makam Nabi Musa, Jericho, Mount of Temptation View, Mata Air Elisa, dan Makam Nabi Daud, serta menikmati sinar matahari di Laut Mati. Laut Mati adalah tempat terendah di muka bumi.

Di hari yang sama, kami juga mengunjungi makam Yousha bin Noon dan makam Nabi Syuaib. Menjejaki langkah di makam para Nabi kembali lagi membuat saya merasa kecil di dunia ini. Betapa pengorbanan beliau-beliau menyebarkan agama Allah sungguh luar biasa.

Memasuki hari Sabtu, kami mengunjungi Petra, rumah para Nabatea, kota lengkap yang diukir di gunung dengan bebatuan besar berwarna-warni. Masuk ke dalam Petra, dikenakan biaya setara dengan Rp 1 juta.

Situs itu sungguh luar biasa. Dari informasi yang saya terima dari tour guide, apa yang ada di sana ternyata baru 40 persen. Masih ada 60 persen lagi yang belum digali.

Di Yordania juga kami mengunjungi Goa Ashabul Kahfi. Semua yang saya lihat sungguh pernah saya baca dalam Alquran. Maha Besar Allah dengan segala firmanNya.

Goa Ashabul Kahfi

Destinasi itulah yang menjadi lokasi terakhir dalam tur kali ini. Sebab, setelah itu kami harus bertolak ke Jakarta melalui Bandara Queen Alia.

Sungguh, dalam semua perjalanan ini, banyak hal yang bisa saya tangkap. Salah satunya membuktikan bahwa apa yang tercatat di Kitab Suci itu benar adanya. (Bee 1 – selesai)