Beerita.id – Hari kedua di Mesir, kunjungan utama adalah ke Piramida. Namun, sebelum ke sana, kami pergi ke Egypt Institute Papyrus. Kata papyrus inilah yang kemudian diserap orang barat menjadi paper atau kertas. Papyrus memang berfungsi layaknya kertas.

Dalam penjelasan yang saya dapatkan di sana, konon Nabi Musa dihanyutkan ke sungai menggunakan keranjang dari Papyrus. Kenapa papyrus, karena buaya tidak suka dengan aroma dan karakteristik bahan tersebut.

Papyrus kalau dipotong bentuknya menyerupai piramida.

Kalau kesana, pengunjung juga bisa membeli oleh-oleh hiasan berbahan dasar papyrus. Harganya cukup mahal, namun asli. Kalau di luar lokasi tersebut, harganya bisa murah, tapi kemungkinan palsu. Bukan papyrus asli melainkan dari bahan kulit jagung.

Ini karya lukis saya tentang piramida dan sphinx

Masuk ke institute tersebut tidak dikenakan biaya apapun.

Finally, puncak dari kunjungan ke Mesir kali ini adalah mengunjungi salah satu keajabaian dunia. Apalagi kalau bukan piramida. Salah satu yang kami datangi adalah piramida terbesar yang ada di sana. Giza namanya.

Selama perjalanan, rombongan kami ditemani oleh Aladdin. Ups, tentu bukan Aladdin yang punya jin, tetapi pemandu yang memang punya nama panggilan Aladdin. Dia orang mesir yang fasih berbahasa Indonesia. Kehadirannya dengan joke-joke segar mampu membuat perjalanan menjadi lebih menyenangkan.

Bersama Aladdin, tour guide yang fasih berbahasa Indonesia dan kocak

Mengunjungi salah satu tempat bersejarah membuat saya tidak mau menyiayiakan kesempatan. Saya sempatkan untuk melukis on the spot. Objeknya apa? tentu piramida, sphinx, dan pemandangan gurun.

Salah satu sudut gurun yang saya abadikan untuk kemudian akan saya lukis.

Jalan-jalan ke negara baru tentu salah satu hal wajib adalah membeli oleh-oleh untuk keluarga tersayang di rumah. Nah, Aladdin memegang peranan besar dalam sesi kali ini. Sebelum kami menuju pasar tradisional, kami terlebih dahulu di-briefing. ”Kalau saya beri tanda, berarti harga yang ditawarkan padagang murah. Begitu juga sebaliknya,” ujar dia.

Selesai dari pasar, tuntas pula kegiatan kami di hari kedua.

Esoknya, setelah sarapan di hotel kami diantar keluar dari Mesir yang berada di belahan bumi Afrika ke Mesir yang ada di Asia. Ya, Mesir memang satu di antara tiga negara yang berada di dua benua sekaligus. Selain Mesir ada Turki yang berada di Asia dan Eropa, Serta Rusia yang mendiami Eropa dan Asia.

Berpose di atas Unta di kawasan Piramida Giza

Perjalanan kali ini saya melewati terowongan Ahmad Hamdi yang berada di bawahnya Terusan Suez. Tujuan kami adalah Sharm el-Sheikh. Terletak di Provinsi Sinai Selatan. Kota wisata itu memadukan keindahan Laut Merah dan gagahnya gurun Semenanjung Sinai.

Sharm el-Sheikh seringkali dijuluki sebagai surganya Timur Tengah. Bagi wisatawan Indonesia, mereka mungkin akan melihat potret Bali di kota itu. Sebab, mayoritas wisatawan yang mengunjungi tempat ini berasal dari Eropa dan negara Barat lainnya. Sharm el-Sheikh bisa dijangkau baik melalui jalur udara maupun jalur darat.


Pemandangan di Sharm el-Sheikh

Perjalanan berlanjut ke kaki Gunung Tursina untuk melihat secara langsung Patung Musa Samiri dan berziarah ke makam Nabi Harun. Tak lama, rombongan berjalan lagi menuju Taba, kota di dekat perbatasan Mesir dan Israel. Jarak antara Kairo dan Taba sekitar 356 km yang dapat ditempuh dengan bis sekitar 6 jam. Perjalanan itu melewati Desa St Katherina yang berada di kaki Gunung Sinai.

St Katherina yang berada di kaki Gunung Sinai

Jazirah Sinai, yang sebagian besar adalah milik Mesir, nyaris seluruhnya gurun yang kering. Dengan panjang 160 km dan lebar 24 km, Semenanjung Sinai terletak di antara Laut Merah di bagian utara, Teluk Suez di barat, dan Teluk Aqaba atau Teluk Eilat di bagian timur. Jumlah penduduk di wilayah ini sekitar 1,4 juta.

Perjalanan darat dari Mesir ke Israel Palestina, dan negara sekitarnya, harus melewati gurun ini. Dari Kairo, yang terlihat di kiri-kanan jalan adalah gurun pasir, dataran, perbukitan, dan pegunungan tandus. Ada sejumlah perkampungan etnik Bedwin yang hidup sebagai peternak.

Di makam Nabi Harun

Jalan raya umumnya mulus dan sepanjang jalan diterangi listrik pada malam hari. Jalan raya dibangun oleh Israel ketika negara yang dibangun para Zionis itu menguasai kawasan Sinai, 1967-1982.

Salah satu perhentian menarik setelah melewati terowongan Terusan Suez adalah sumur Musa di Mara. Untuk membuktikan kepada umat Israel bawah Allah menuntun mereka, sumur air yang sebelumnya pahit berubah menjadi manis. 

Perjalanan ini menjadi bukti bahwa kebesaran Tuhan itu nyata adanya. Semuanya terangkai jelas dalam kitab suci. (Bee 1 – bersambung)