Beerita.id – Siapa yang tidak kenal Indomie. Hampir seluruh masyarakat Indonesia mengetahui bahkan bisa jadi penggemar setia dari makanan instant tersebut. Harga yang murah, cara penyajian yang cepat, dan rasa yang tentunya enak menjadi alasan utama mengapa Indomie digemari.

Ternyata rasa enak itu tidak hanya diakui oleh anak bangsa saja. Apalagi anak kos yang selalu identik dengan mie kemasan tersebut. Pasalnya, belum lama ini, sebuah media berpengaruh asal Amerika Serikat LA Times menobatkan Indomie menjadi ramen terlezat di dunia!

Mau tahu sejarah panjang Indomie yang diproduksi oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur hingga bisa meraksasa seperti ini? Seperti dikutip Tirto.id, menurut buku Liem Sioe Liong dan Salim Group Pilar Bisnis Soeharto (2016) karya Richard Borsuk dan Nancy Chng (hlm. 301), merek Indomie mulai muncul pada awal dekade 1970-an.

Ilusstrasi Indomie

Produk Indomie pertama kali dibuat oleh perusahaan Sanmaru Food Manufacturing yang didirikan oleh Djajadi Djaja, Wahyu Tjuandi, Ulong Senjaya, dan Pandi Kusuma. Pada 1972, pabrik rintisan mereka mulai beroperasi dengan menggunakan merek Indomie, singkatan dari “Indonesia Mie”.

Masuknya Liem Sioe Liong ke industri mi instan terjadi pada akhir dekade 1970-an. Ia mendirikan PT Sarimi Asli Jaya dengan produknya, Sarimi. Liem berharap dapat memproduksi sendiri mi instan dalam jumlah besar dengan menginvestasikan uangnya untuk membangun sarana produksi dari Jepang.

Ketertarikan Liem kepada industri mie sebenarnya dilatarbelakangi kelangkaan beras yang melanda Indonesia kala itu. Di saat yang bersamaan, tercetus gagasan dari pemerintah untuk menggantikan beras dengan tepung gandum.

Pabrik penggilingan beras mulai mendapat mandat untuk mempromosikan terigu sebagai pengganti beras lewat kampanye media. Hanya berselang beberapa tahun setelah Liem Sioe Liong memutuskan terjun ke industri mi instan, tulis Richard Borsuk dan Nancy Chng, ancaman krisis beras ternyata mulai mereda.

Padahal, Liem sudah memproduksi Sarimi dalam jumlah besar. Liem lantas mulai mendekati Djajadi Djaja agar Indomie mau bermitra dengannya. Kendati awalnya enggan, Djajadi merasa tak punya banyak pilihan dan akhirnya bersedia bekerja sama.

Liem dan Djajadi kemudian membuat perusahaan patungan bernama PT Indofood Interna pada 1984. Menurut pembagian sahamnya, pihak Djajadi mengambil bagian sebesar 57,5 persen, sedangkan Liem sebesar 42,5 persen.Hanya dalam tempo dua tahun, perusahaan ini tumbuh cukup kuat dan mengakuisisi merek mie instan lain, yakni Supermi. Saat ini, beragam mi produksi PT Indofood merajai pasar di tanah air, bahkan hingga ke mancanegara, meskipun tetap harus bersaing dengan sejumlah merek lain yang kian menambah semarak persaingan mi instan di Indonesia. (Bee 3)