Beerita.id – Inspirasi untuk berkarya bisa berasal dari mana saja. Termasuk Athalia Mutiara Laksmi, salah satu finalis Diplomat Success Challenge ke-10 (DSCX) yang kemarin (16/11) menjalani sesi penilaian final di De Tjolomadoe, Karanganyar.

Mahasiswi bisnis semester VII dari Institut Teknologi Bandung ini baru saja mempresentasikan ide bisnisnya bertajuk Hear Me di hadapan dewan juri. 

Sembari menunjukkan prototipe aplikasi buatannya lewat tablet, ia menunjukkan bakal proyek buatannya bisa membantu penyandang disabilitas rungu dan wicara untuk berkomunikasi. Aplikasi tersebut memiliki fitur mengubah suara ke bahasa isyarat dan mengubah bahasa isyarat menjadi teks atau suara.

Ia memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan sampai mesin pengenal wajah untuk mewujudkan aplikasinya. “Untuk prototip ini tahap satunya sudah 40%. Kami butuh teknologi kompleks dengan biaya dan waktu yang tidak sedikit untuk mewujudkan aplikasi ini,” beber dia.

Keinginan membuat Hear Me bermula dari pengalaman Athalia yang pernah naik taksi berbasis aplikasi online.

Pengemudinya waktu itu tuna rungu dan ditemani putrinya untuk membantu berkomunikasi dengan penumpang. “Jadi kepikiran untuk menjembatani komunikasi seperti itu,” ujarnya.

Ide bisnis lain dipresentasikan Anindita Pradana Suteja. Perempuan asal Solo ini menggagas Beehive Agriculture. Ia memanfaatkan teknologi drone untuk menjawab tantangan industri pertanian masa depan.

“Kebetulan partner saya ambil riset Phd di bidang agriculture technology. Jadi kami paham kelebihan, kekurangan, dan cara memaksimalkan drone. Alat ini bisa capture sekaligus jadi bahan analisis data yang bisa membantu petani mengelola lahan,” jelas perempuan alumnus S2 University of Manchester Inggris.

Ide peserta yang lolos final kompetisi kewirausahaan DSCX meliputi bidang agrobisnis, kuliner, kriya dan fesyen, usaha rintisan digital, sampai teknologi terapan.

Startup dan teknologi terapan meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatannya cukup eksponensial. Tahun lalu digital startup 6,7%, tahun ini di angka 14,2%,” jelas Edric Chandra, Penggagas DSC.

Edric menuturkan 12 finalis dipilih dari 12.500 pelamar dengan dominansi peserta dari kalangan milenial.

Dewan Komisioner saat memberikan arahan

Mereka telah mengikuti serangkaian sesi inkubasi dan pendampingan dengan mentor Michael Tampi, Muhammad Aga, Dina Dellyana, dan Pangeran Siahaan.

“Sistem pendampingan kami bertransformasi mengikuti kebutuhan ekosistem. Mereka diajari berbisnis lebih baik mulai dari problem statement, bagaimana menentukan value proportion, membuat produk, objective key resultbusiness model, dan revenue,” beber dia.

Hari pertama Final Day DSCX dibuka Dirut PT Wismilak Inti Makmur Tbk. yang juga Dewan Pimpinan Harian Ketua Bidang UMKM-IKM DPN Apindo, Ronald Walla. Acara disusul Panel Roadmap mengenai UMKM-IKM sebagai Sektor Strategis Nasional. Setelah itu ada beberapa narasumber yang hadir membagikan ilmunya.

Di antaranya Adrian Syarkawie Direktur Utama Mahaka Media yang membawakan materi Radio and Industry 4.0, lalu ada juga Pimpinan Redaksi Jawa Pos Abdul Rokhim yang menyampaikan materi Media and Strategic Communication in Digital Culture.

Adapun dewan komisioner yang hadir adalah Surjanto Yasaputra, Helmy Yahya, dan Antarina SF Amir

Pengumuman pemenang Final Day DSCX digelar di tempat yang sama, Minggu (17/11/2019).

Pemenang berhak memboyong hibah modal usaha senilai total Rp 2 miliar. (Bee 2)