Beerita.id – Seni tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Ir Ciputra, founder Ciputra Group sekaligus Begawan Properti Indonesia yang dini hari tadi meninggal dunia di Singapura. Hal tersebut dikatakan Freddy H. Istanto, Dekan Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra yang cukup dekat dengan almarhum.

Semasa hidup, Ciputra kerap kali berdiskusi tentang seni, khususnya lukisan kepada Freddy.

Namun siapa sangka, keakraban itu bermula dari pertanyaan “mengerikan”. Semua terjadi beberapa tahun silam saat Freddy baru saja bergabung dengan Universitas Ciputra. Ketika itu dia mendapat telepon dari kantor pusat di Jakarta.

Pertanyaannya satu, ”Pak Freddy, Pak Ciputra diundang untuk membuka Pameran PSLI (Pasar Seni Lukis Indonesia) di Surabaya, layakkah Pak Ciputra hadir, bagaimana kondisi Pamerannya?” tanya penelepon pada Freddy.

Bagi pria yang juga pemerhati sejarah, pertanyaan tersebut cukup mengerikan dan bagai simalakama. Bagaimana tidak, saat itu PSLI memang perdana diadakan. Sehingga belum ada track record yang jelas untuk mengukur keberhasilannya.

Freddy saat berdiskusi bersama Ciputra. FOTO : Istimewa

”Jawaban-jawaban saya bisa mengancam reputasi saya di UC. Lagian saya juga tidak tahu apa itu PSLI, karena baru akan pertama kali diselenggarakan,” katanya.

Tapi, penuh keyakinan, walau tentu tetap dengan ngeri-ngeri sedap, Freddy mengatakan “Layak!!”.

Kehadiran Ciputra di pameran itu ternyata membuat hubungan antara dirinya dan Freddy menjadi dekat. Khususnya lewat jalur seni. Karena di PSLI itulah, ujar Freddy, Pak Ci bertemu dengan pelukis Asri Nugroho.

Gaya Lukisan Asri Nugroho itu sangat disukai Pak Ci. Beberapakali menemani Asri Nugroho yang diundang secara khusus, membuat Freddy sangat menghargai Ciputra. Betapa sense of art-nya benar-benar world class.

Pernah, kenang Direktur Sjarikat Poesaka Soerabaja itu, saat menemani pelukis Asri Nugroho menemui Pak Ci, tiba-tiba, plok, sebuah koran dilempar ke meja dan Pak Ci bilang: “Freddy ini sampah!”

”Ternyata beliau sangat tidak suka dengan desain iklan saat UC pertama kali mengadakan wisuda. Opini saya sih, desain itu sudah baik. Tapi di mata beliau, desain itu seperti pada umumnya sebuah desain iklan ucapan selamat pada sebuah acara wisuda. Beliau minta segera diganti. Apresiasi saya pada beliau, sekali lagi adalah sense of artnya di atas rata-rata,” kenang Freddy.

”Dan beliau sangat anti “me too” atau ikut-ikutan seperti yang lain. Dari beberapa pertemuan itu, Saya belajar. Bahwa kreatifitas dan Inovasi bukan sekedar jargon, just do it,” lanjutnya. (Bee 3)