Beerita.id – “Bisnis itu tidak melulu untung dan rugi. Ada kalanya kita harus melihat dari sisi kemanusiaan.” Itu yang dikatakan Begawan Properti, Ir Ciputra pada saya di Agustus yang lembab lima tahun silam, di kediamannya yang asri di Bilangan Pondok Indah Jakarta. Rumahnya berpunggungan dengan Pondok Indah Golf Course.

Dinihari tadi, Ir Ciputra telah berpulang meninggalkan banyak legacy kebijaksanaan. Berdasarkan informasi yang saya terima, beliau meninggal di Singapura pada pukul 1;05 waktu setempat. Pak Ci wafat di usianya yang ke 88 tahun.

Pemimpin Redaksi Beerita.id saat berkesempatan bertemu Ir Ciputra di kediamannya.

Memiliki jiwa seni tinggi, rumah Ciputra dihiasi oleh aneka patung dan lukisan. Untuk lukisan, hanya karya maestrolah yang nangkring di sana. Di antaranya milik Hendra Gunawan (soal ini, hubungan personal keduanya amat sangat dekat dan terbangun puluhan tahun lamanya).

Kembali ke pembicaraan kisah hidupnya, Ciputra mengatakan fase hidup terbagi atas tiga. Pertama, manusia merasa dia hebat. Kedua, manusia merasa dia paling pintar. Dan ketiga, ketika esensi hidup sudah ditemukan, manusia akan merasa dia paling bodoh.

“Kita betul-betul sukses itu ketika kita sudah merasa diri paling bodoh. Sehingga kita tidak lelah untuk mencari ilmu. Sehingga kita tidak akan membohongi dan membodohi orang lain karena kitalah yg bodoh,” jelas dia.

Lebih dari dua jam percakapan mengenai perjalanan hidup Pak Ci kami lakukan. Ditemani brownies cokelat yang masih hangat, pisang rebus, dan secangkir english tea.

Meski langkahnya tak lagi tegap, Pak Ci tetap semangat mengajak saya mengelilingi rumahnya yang luas itu. Saat di taman belakang, yang langsung berhubungan dgn lapangan golf, (dan memang punya area green putting sendiri), tiba-tiba Pak Ci menyuruh asistennya untuk mengambil stik putter. “Ayo, kita adu, saya masih bisa mengalahkan anak muda tidak,” katanya lantas terkekeh.

Golf bagi Pak Ci adalah part of life. Termasuk bagaimana dia serius melahirkan golfer-golfer junior tanah air.

Pertemuan mengesankan itu ditutup makan siang bersama dengan menu utama ikan bakar dan sup iga sapi. “Di meja ini juga saya menjamu Pak Harto dan Ferdinand Marcos (mantan Pres Filipina).”

Selamat jalan Pak Ci. Semoga tenang di sisi NYA

*catatan Panji Dwi Anggara