Beerita.id – Kata Zhong Yong ternyata masih awam di telinga masyarakat Indonesia, tak terkecuali keturunan Tionghoa. Hal itu yang ditangkap oleh lima peneliti dari Pusat Kajian Indonesia – Tiongkok (PUSKIT) FISIP Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) saat melakukan riset.

Berbeda dengan Yin Yang yang sudah masyhur dan mendunia karena memiliki makna filosofi tinggi dari ajaran Tao, Zhong Yong pun sebenarnya memiliki arti luar biasa. Zhong adalah tengah, Yong berarti tidak menyimpang. Jika diartikan secara bebas, Zhong Yong yang merupakan doktrin dari Konfusianisme itu memiliki makna keteguhan memegang prinsip kebenaran di tengah dan tidak menyimpang.

Para peneliti yang juga merupakan dosen di universitas tersebut berusaha meneliti ajaran Zhong Yong pada masyarakat Tionghoa di Indonesia. Khususnya kalangan muslim Tionghoa. ”Bisa dikatakan, kalangan tersebut merupakan double minority,” kata salah satu tim peneliti Fathoni Hakim.

Tema yang diaangkat dalam penelitian itu adalah The Spirit of Zhong Yong dan Moderasi Muslim Tionghoa di Indonesia. Mereka berusaha memaparkan fakta bahwa Islam adalah agama yang penuh toleransi. ”Jangan sampai, orang Tionghoa yang masuk ke dalam Islam itu mendapat pemahaman agama yang salah,” jelas Fathoni yang juga merupakan Ketua Jurusan Hubungan Internasional UINSA.

Penerapan Zhong Yong dirasa pas untuk diterapkan di Indonesia saat ini karena spirit dan ajarannya in-line dengan ajaran islam. Terlebih saat ini sedang maraknya isu seperti radikalisme, anti pancasila dan khilafah. “Penelitian ini berangkat dari fenomena pemikiran ekstrimis dan radikalis di Indonesia. termasuk dari etnis muslim Tionghoa,” kata dia.

Selain Fathoni, ada empat peneliti lain yang tergabung, mereka adalah Ridha Amaliyah, Wahidah Siregar (ketua riset), Zaky Ismail, dan Rizky Nurika.

Peneliti saat memaparkan hasil penelitiannya di Masjid Cheng Hoo Surabaya

Penelitian tersebut mengambil jenis kualitatif dengan unit analisis organisasi dan yayasan yang dikelola oleh muslim Tionghoa yaitu PITI, YHMCHI, Yayasan Haji Karim Oei, dan Yayasan Al-Mahdi.

Dengan teknik keabsahan data Triangulasi diskusi dan FGD (Fokus Group Discussion) penelitian ini dilakukan dengan melakukan observasi ke 15 masjid Cheng Hoo se-Indonesia, Masjid Lautze, dan Masjid Al-Mahdi.  ”Pada penelitiannya, kami mengambil dua pendekatan teori yaitu Classical Confucianism dan Neo-Confucianism,” jelas dia.

Dalam riset itu, peneliti menemuka fakta menarik. Yakni, dari puluhan responden yang diwawancarai hanya ada dua orang saja yang paham dan sudah pernah membaca kitab Zhong Yong. Itupun dari kalangan akademisi. ”Beliau adalah H. Iskandar Chang dan H. Sulaiman atau Go Tji Kiong. Tapi, meski demikian, responden yang belum tahu Zhong Yong mengaku bahwa mereka sudah menerapkan nilai dan ajaran Zhong Yong di kehidupan sehari-hari. Karena ajaran konfusius itu hidup dan berkembang secara tradisional terutama di lingkungan keluarga. Tak heran jika mayoritas muslim Tionghoa di Indonesia itu moderat dan toleran,” kata dia. (Bee 4)