Beerita Indonesia
Beerita.id

Defisit Neraca Dagang Terbesar RI

1

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Beerita.id – Defisit terbesar sepanjang sejarah menimpa neraca perdagangan Indonesia pada April 2019. Tidak main-main, angkanya mencapai USD 2,50 miliar. Defisit itu didorong nilai ekspor yang turun lebih dalam dibanding impor. Pada April lalu, nilai ekspor tercatat USD 12,6 miliar. Angka tersebut turun 13,10 persen dibanding ekspor pada April 2018. Impor yang tercatat USD 15,10 miliar juga turun, tetapi hanya 6,58 persen secara year-on-year (yoy).

Foto : pixabay.com

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, hal itu disebabkan beberapa faktor. Yakni, ekspor yang melemah sekaligus meningkatnya impor menjelang Ramadan yang jatuh pada Mei. ”Tapi, ini perlu diantisipasi karena tantangan perdagangan global ke depan semakin sulit akibat perang dagang,” katanya seperti dilansir Jawa Pos.

Ekonom Bank Mandiri Dendi Ramdani mengungkapkan, defisit neraca dagang pada April lalu dipicu anjloknya kinerja ekspor, khususnya komoditas batu bara dan CPO. Selain dua komoditas tersebut, ekspor migas turun cukup dalam. ”Ini (defisit) karena efek harga dua komoditas yang anjlok,” jelasnya kemarin.

Foto : pixabay.com

Dendi memprediksi kinerja neraca dagang belum akan membaik di semester II tahun ini. Dia menyebut cukup sulit bagi ekspor untuk recovery karena harga komoditas diperkirakan masih rendah. Karena itu, pihaknya menilai harus ada alternatif komoditas ekspor selain CPO dan batu bara. ”Ekspor alternatif yang digenjot seperti garmen atau otomotif untuk mengompensasi penurunan komoditas,” tambahnya.

Sementara itu, seiring tingginya permintaan menjelang Lebaran, kain dan pakaian jadi impor dari Tiongkok terus menggempur Indonesia. Kementerian Perindustrian menyebut pihaknya akan meminta Direktorat Jenderal Bea Cukai mengevaluasi produk kain dan pakaian jadi di Pusat Logistik Berikat (PLB). Harapannya, arus impor produk-produk tersebut dapat ditekan agar penyerapan barang dalam negeri bisa optimal.

Foto : pixabay.com

Direktur Jenderal IKM dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan, saat ini impor kain dan pakaian jadi asal Tiongkok memang marak didorong perjanjian kerja sama dagang. ”Membuat produk-produk asal Tiongkok lebih mudah masuk ke tanah air,” katanya kemarin.

Berdasar data BPS, impor total tekstil dan produk tekstil pada April 2019 naik 64,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari data BPS juga disebutkan bahwa impor filamen buatan Tiongkok tercatat USD 320,82 juta pada April. Filamen buatan merupakan jenis benang yang digunakan untuk membuat kain. (bee 5)

You might also like