Beerita.id – Oxfam baru saja mengeluarkan laporan mengenai kesenjangan antara penduduk paling kaya di dunia dengan mereka yang berpendapatan rendah dengan judul “Time to Care”. Di dalam laporan tersebut dijelaskan, sistem ekonomi duia yang seksis memicu ketimpangan yang memungkinkan penduduk kaya mengumpulkan kekayaan dalam jumlah besar dengan mengorbankan penduduk biasa khususnya perempuan dewasa dan perempuan remaja miskin. Seperti dikutip dari keterangan tertulis di laman oxfam.org, organisasi nirlaba Inggris tersebut menjelaskan, nilai kekayaan dari 22 laki-laki yang masuk dalam daftar miliarder dunia lebih besar dibandingkan dengan nilai kekayaan yang dimiliki oleh hampir semua perempuan di Afrika. Saat ini, populasi perempuan di Afrika.

Foto : pixabay.com

” Kekayaan ekstrem saat ini juga terbangun atas dasar seksisme. Sistem ekonomi kita dibangun oleh laki-laki kaya dan berkuasa, yang terus membuat aturan untuk menuai keuntungan besar,” tulis Oxfam dalam laporannya, Senin (20/1/2020). Secara keseluruhan, laporan tersebut menyebutkan, 2.153 miliarder dunia memiliki kekayaan lebih besar dibandingkan dengan harta 4,6 miliar penduduk dunia yang mendiami 60 persen dari populasi bumi. Selain itu, 1 persen penduduk paling kaya di dunia tersebut hanya membayarkan pajak untuk kekayaan mereka sebesar 0,5 persen. Dalam 10 tahun, nilai kekayaan tersebut sama dengan investasi yang dibutuhkan untuk menciptakan 117 juta pekerjaan di sektor-sektor yang dibutuhkan pada masa depan, seperti perawatan lansia, anak-anak, pendidikan, dan kesehatan.

Foto : pixabay.com

Di dalam laporan tersebut dijelaskan, pemerintah dunia gagal dalam mengumpulkan potensi perpajakan dari penduduk kaya juga perusahaan-perusahaan konglomerasi dunia. Padahal, dengan demikian, pemerintah bisa meningkatkan potensi lapangan kerja untuk perempuan sekaligus mengurangi kemiskinan dan kesenjangan antara si kaya dan si miskin.Di sisi yang lain, pemerintah juga kekurangan dana untuk layanan publik dan infrastruktur penting yang dapat membantu mengurangi beban kerja perempuan dan anak perempuan. Misalnya, investasi dalam air dan sanitasi, listrik, pengasuhan anak, perawatan kesehatan dapat membebaskan waktu perempuan, dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Kemudian, menyediakan akses ke sumber air yang lebih baik dapat menyelamatkan perempuan di bagian-bagian Zimbabwe hingga empat jam kerja sehari, atau dua bulan setahun. “Pemerintah harus memprioritaskan perawatan sama pentingnya dengan semua sektor lain untuk membangun lebih banyak ekonomi manusia yang bekerja untuk semua orang, bukan hanya sedikit yang beruntung,” kata CEO Oxfam India Amitabh Behar.