Beerita.id – Kasus Jiwasraya bisa jadi gelombang panjang. Itu setelah Kejaksaan Agung (Kejagung) menginstruksikan pemblokiran terhadap 800 rekening efek guna mempermudah penelusuran kasus korupsi besar di Jiwasraya.

Semua rekening efek yang diblokir diperoleh dari 137 perusahaan. Kebanyakan mereka yang terkena blokir tidak mengetahui duduk perkara yang sedang terjadi.

Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejagung Febrie Adriansyah menjelaskan, semua rekening yang telah diblokir akan dipisahkan.

Pakar Asuransi Hotbonar Sinaga mengungkapkan, pemblokiran rekening dari beberapa perusahaan sekuritas dan asuransi akan memiliki dampak yang serius. Menurutnya, pemblokiran juga akan menimbulkan keresahan di masyarakat.

Hotbonar meminta, pemerintah harus menyikapi masalah tersebut dengan serius, agar bisa menghindari semua dampak buruk yang bisa saja terjadi.

“Nasabah kalau terus didiamkan terlalu lama kan kasihan juga. Hal ini juga akan memicu risiko sistemik,” ujarnya dalam keterangannya, Kamis (13/2).

Hotbonar menyebut, Kejagung seharusnya sudah bisa membuka rekening nasabah yang tidak ada sangkut pautnya dengan kasus besar yang saat ini sedang terjadi.

“Jadi perusahaan sekuritas dan asuransi harus segara berdiskusi dengan OJK mengenai langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan,” jelas dia.

Sebagai informasi, Kejagung memerintahkan agar 800 rekening efek diblokir terkait penyidikan kasus Jiwasraya. Pemblokiran tersebut kemudian dibahas bersama dalam Rapat antara Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) dengan Anggota Bursa pada Kamis, 23 Januari 2020.

Namun dalam rapat tersebut dibahas sekitar 1.000 sub rekening efek yang sudah diblokir, dari sebanyak 60 Single Investor Identification