Beerita Indonesia
Beerita.id

Di Penghujung Malam Bersama Didi Kempot

0

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Lewat tengah malam ketika mobil yang saya tumpangi memasuki Pendopo Kabupaten Ngawi. Gerimis yang menemani sepanjang perjalanan dari Surabaya membuat malam itu terasa dingin. Saya tidak sendiri. Ada Mas Wawan Sugianto, pengusaha kuliner top yang ikut dalam perjalanan itu. Saya menumpang mobil Alphard miliknya.

Pendopo sepi. Empat petugas menyambut kami lantas mengantarkan ke ruang tamu. Di sana, saya melihat ada 6 atau 7 orang. Selain Bupati Ngawi Budi Sulistyono, ada juga Kapolres, Dandim, dan dua orang pejabat teras.

Pandangan saya terfokus pada wajah familiar yang duduk agak ke pojok. Dia adalah Didi Kempot.

Mengenakan pakaian serba hitam, Didi asyik mendengarkan cerita dari Pak Bupati.

“Nah, ini tamu dari Surabaya sudah datang. Bawa bebek Mas Wawan?” Sapa Pak Kanang -sapaan akrab Bupati. Pembicaraan terputus.

Mas Wawan memang pemilik dari Bebek Goreng Harissa yang tersohor itu.

“Siap. Bawa Pak Bupati. Lengkap dengan sambalnya,” ucapnya.

Seketika obrolan itu selesai. Kami diarahkan ajudan menuju ruang yang lebih besar lagi. “Ini namanya makan dini hari,” celetuk Didi disambut geer yang lain.

Selama makan, saya ngobrol dengan penyanyi yang membiarkan rambutnya panjang itu. “Makan itu dienakke Mas. Urip iku dinikmati,” ucapnya sembari memasukkan nasi talam bumbu madura ke mulutnya.

“Lha iyo, ono panganan sing enak ngene kok masih ono wong galau.” Saya hanya tertawa.

Saat itu Didi Kempot memang sudah terkenal. Tapi tidak “sebombastis” sekarang. Dia belum dikenal sebagai The Lord of Broken Heart. Pengagumnya kebanyakan masih di Jawa Timur atau Jawa Tengah. Belum menasional. Meski banyak lagunya yang sudah diakrab di telinga pecinta musik tanah air. Sebut saja Stasiun Balapan dan Sewu Kutho.

Ahhh, tentang lagu kedua itu, saya ingat percakapan dengan adik saya dalam satu perjalanan ke Jogjakarta. Kebetulan radio di mobil tengah memutar lagu itu. Saya menegaskan bahwa lirik dalam lagu Sewu Kutho sangat tajam. Apalagi bagi yang benar-benar kehilangan kekasih.

Umpamane kowe uwis mulyo
Lilo aku lilo
Yo mung siji dadi panyuwunku
Aku pengin ketemu
Senajan sak kedeping moto
Kanggo tombo kangen jroning dodo.

Bahasa kerennya begini, haaai sayang. Satuuu aja permintaanku. Aku hanya ingin ketemu. Cukuplah walau hanya sekedipan mata. Sebagai pelepas kangen selama ini.

Bayangin. Ini tataran cinta level tertinggi. Kerinduan yang mungkin ketinggiannya melebihi puncak.

Dia mungkin nggak ingin mengganggu wanita idamannya. Bertemu sebentar saja sudah cukup membuat bahagia. Memastikan sang pujaan hati baik-baik saja.

Didi Kempot

Lirik karya Didi Kempot memang tajam. Dia mampu meramu kesedihan menjadi sebuah kekuatan. Karyanya makin bisa diterima karena memakai metode proximity alias kedekatan dengan pangsa pasarnya. Contohnya Stasiun Balapan Solo, Terminal Tirtonadi, Tanjung Mas, Terminal Kertonegoro, Pantai Klayar, Bangjo Malioboro. Siapa yang tidak senang daerahnya diangkat menjadi sebuah lagu. Dan The Lord berhasil untuk itu.

Saya juga ingat ketika masih menjadi penyiar di Radio Suara Akbar Jember medio 2005 – 2008. Ketika itu saya menjadi host program musik nostalgia yang mengudara dari jam 9 – 11 malam.

Nah, setelah jam saya siaran, programnya adalah lagu-lagu khas Jawa. Pengasuhnya Kang Parto. Saat beliau ijin tidak masuk, tentu mau tidak mau, saya yang mengambil peran siaran. Biasanya Kang Parto sudah menyiapkan list lagu untuk diputar. Tapi, karena saya tidak paham lagu-lagu tersebut, akhirnya saya buat list sendiri di hari H. Dan, selama dua jam lagu Didi Kempot yang saya putar!.

Tugas saya simpel. Membuka acara, menyapa, lalu tinggal ngomong “Baik Mitra Akbar semua, malam ini spesial. Sangat spesial. Karena dua jam kebersamaan kita akan ditemani oleh tembang milik Didi Kempot.”

Jreng. Lagu diputar. List disusun rapi di program Winamp, bersama dengan slot iklan.

Saya sendiri, tidur!

Seingat saya, tidak lebih dari 10 kali Kang Parto minta saya gantikan acaranya. Dan selama itu pula kejadian berulang.

Suatu ketika, saat dia tidak masuk, ternyata ada penyiar lain yang datang menggantikan. “Lho tumben datang, kenapa ndak saya saja yang siaran?” sapa saya pada penyiar pengganti. Dia hanya jawab “Kang Parto nggak mau nama radio Suara Akbar berubah jadi Suara Kempot.”

Kembali ke Didi Kempot di Pendopo Ngawi. “Mas, sebenarnya total berapa lagu yang sudah mas ciptakan? Maaf saya hanya tahu sebagian saja,” tanya saya pada adik pelawak Mamiek itu.

Sembari memakan buah semangka, pria yang akhir-akhir ini tarif sekali manggungnya di kisaran angka Rp 150 juta – 200 juta itu menjawab. “Pastinya saya lupa Mas. Tapi, kalau 700 lagu mungkin ada,” ucapnya tanpa ada nada sombong.

“Terus lagu itu apa ndak dijaga Mas? Maksud saya, apa ndak takut kalau dipakai orang lain?”

Jawabannya malam itu cukup membuat saya kaget. “Harta saya ndak seberapa Mas. Kalau ternyata lagu saya itu bisa menjadi bekal orang menghidupkan keluarganya yo alhamdulillah. Berarti saya bisa bantu. Tapi memang lebih baik kalau ngomong dulu. Toh saya ndak akan minta bayaran kalau memang ndak ada,” ucapnya serius.

Dari jawaban itu sebenarnya bisa disimpulkan bagaimana sosok rendah hati tersebut.

===
“Jenazah maestro Didi Kempot sedang dalam perjalanan ke Ngawi untuk dimakamkan di sana,” ucap penyiar berita dari tv yang saya tonton.

Hari ini saya bersedih.

Kita bertemu di Ngawi. Dan, kau akan dimakamkan juga di Ngawi.

Tidak ada satu pun kematian yang tidak mengingatkan. Sadari dan merenunglah.

Terima kasih Lord.

Sembari menulis lagu ini, saya ditemani lagu Banyu Langit. Siapa tahu, kau sudah sampai di kaki langit.

Banyu langit sing ono dhuwur khayangan
Watu gedhe kalingan mendunge udan
Telesono atine wong seng kasmaran
Setyo janji seprene tansah kelingan

Ademe gunung merapi purbo
Melu krungu swaramu ngomongke opo
Ademe gunung merapi purbo
Sing ning langgran wonosari jogjakarta

Surabaya
5 Mei 2020.

Selamat jalan Mas Didi.

You might also like