Britania Raya Resesi: Diguncang Brexit. Dihantam Covid

Sumber : BBC
890

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Bisnis gagal. Gaji dipotong dan pengangguran meningkat. Adalah ketakutan yang menghantui masyarakat Britania Raya saat tahu Inggris resmi keluar dari Uni Eropa Februari lalu. Setelah resmi keluar, Inggris masih harus menyelesaikan kesepakatan dagang hingga akhir tahun. Belum selesai berunding, Produk Domestik Bruto (PDB) Britania Raya turun 20,4 pada kuartal kedua. Karena dampak pandemi Covid-19 mulai terasa. Yang dinilai secara langsung juga mempengaruhi dan dipengaruhi posisi baru Inggris dalam percaturan politik di Eropa. Diperburuk dengan banyaknya aktivitas yang terhenti karena pembatasan sosial berskala besar. Sejak April 2020 guncangan terjadi pada tiga sektor utama. Antara lain, Jasa, manufaktur dan konstruksi. Toko-toko dan bisnis dipaksa tutup. Pegawai dirumahkan dan tidak ada pemasukan.

Analisis Monthly Business Survey (MBS) menjelaskan, pada Juni 2020 aktivitas seperti transportasi darat, air dan udara mulai meningkat. Setelah sebelumnya tersungkur. Begitupun juga kegiatan ekspedisi. Penghasilan bulanan sektor ini naik sebesar 7,7%. Itu merupakanan kenaikan bulanan terkuat sejak pencatatan dimulai pada Januari 1997. Dari 50 industri jasa, 45 tumbuh antara Mei dan Juni 2020. Sebaliknya, aktivitas real estat rontok dan tidak bangkit sama sekali selama empat bulan terakhir. Karena aktivitas jual-belinya tidak dapat diperhitungkan selama pandemi. Permintaan terhadap pembangunan gedung di atas tanah sepi.

- Advertisement -

Berbeda dengan industri Jasa, produksi dan penghasilan bisnis Manufaktur menurun sejak Januari hingga Maret 2019. Jauh sebelum Covid-19 menyerang. Menandakan bahwa tahun sebelumnya penghasilan sektor ini sudah merosot. Ditambah saat itu brexit belum menemui titik terang di antara pemangku kebijakan. Apalagi dampak Covid-19 mempengaruhi penghasilan produksi selama kuartal kedua tahun ini secara signifikan. Menurun sebesar 11,6 % djauh di bawah kuartal pertama.

Kondisi serupa menimpa sektor konstruksi. Penghasilan sektor itu kuat bertahan di angka yang lebih rendah yaitu 24,8% selama kuartal pertama. Meskipun sempat tumbuh 23,5% pada Juni 2020. Untungnya, penghasilan sektor konstruksi dinilai masih tinggi dibandingkan Mei 2020. Pertumbuhan ini dianggap menolong merosotnya penghasilan pada sektor-sektor lainnya. Sehingga, ada keseimbangan penghasilan yang tercatat dalam penghasilan bulanan.

Meski beberapa sektor menunjukan gerak positif. Peningkatan dua bulan terakhir tidak bisa menutupi jatuhnya penghasilan pada Maret-Mei 2020. Tentu akan memengaruhi gerak ekonomi Britania Raya. Padahal, Inggris baru saja menghela nafas lega setelah resmi keluar dari Uni Eropa. Akankah ada kesepakatan istimewa sebagai jalan keluar? Atau penempatan kembali dirinya di Uni Eropa?

Get real time updates directly on you device, subscribe now.