Dari Bayangan Diskriminasi ke Cahaya Panggung, Kisah Penyanyi Marian Anderson

beerita.id – Marian Anderson seorang penyanyi kontralto (jenis suara terendah yang dimiliki wanita dalam menyanyi) Afrika-Amerika, merupakan salah satu penyanyi paling terkenal di abad ke-20, yang lahir pada tanggal 27 Februari 1897 di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika.

Sejak umur 6 tahun, Anderson telah menarik perhatian banyak orang melalui suaranya yang indah. Marian Anderson terkenal memiliki suara dengan nada yang sangat luas dan mampu menggunakan beragam warna serta ekspresi dalam bernyanyi. Arturo Toscanini, seorang dirigen opera dan orkestra simfoni asal Italia, pernah mengatakan “Marian Anderson mempunyai suara yang hanya dapat ditemui satu kali dalam satu abad”. Ia mempunyai suara khas yang disebut sebagai suara dewi bagi banyak kalangan musik kulit hitam.
Marian Anderson merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, yang lahir dari pasangan John dan Anna Anderson. Ia sempat belajar menyanyi kepada seorang guru suara dan tenor terkenal Guiseppe Boghetti, dan pada usia 15 tahun Marian Anderson mendapat pelajaran suara dari Marry Saunders Patterson, seorang soprano kulit hitam yang terkenal dan ia juga pernah belajar dengan seorang penyanyi perempuan terkenal bernada rendah (kontralto) yang bernama Agnes Reifsnyder, selama dua tahun.
Marian Anderson bernyanyi di National Baptist Convention saat usianya 22 tahun dan Anderson pernah menggelar perjalanan di benua Eropa dan Amerika. Dalam kariernya Anderson menerima banyak perlakuan diskriminasi. Setelah lulus SMA, Anderson ditolak masuk Philadelphia Music Academy karena warna kulitnya, saat itu resepsionis di Akademi tersebut mengatakan, “kami tidak menerima orang kulit berwarna”.

Marian Anderson juga menghadapi segregasi penonton, ia kesulitan mendapatkan tempat konser yang layak. Ia ditolak tampil di Constitution Hall pada tahun 1939, Daughters of the American Revolution (DAR) menolak memberikan izin kepada Anderson untuk tampil, karena kebijakan bahwa tempat ini hanya untuk pemain kulit putih. Eleanor Roosevelt istri dari presiden Franklin D. Roosevelt, mengundurkan diri dari DAR sebagai bentuk protes. Penolakan ini memicu kemarahan publik dan Marian Anderson mendapat dukungan publik yang luas. Elianor Roosevelt mengatur agar Anderson dapat tampil di Lincoln Memorial pada Minggu Paskah, acara ini dihadiri oleh 75.000 orang dan disiarkan melalui radio ke jutaan pendengar. Pada tahun 1943 DAR, meminta maaf dan mengundang Anderson untuk tampil di Constitution Hall untuk acara amal Palang Merah Amerika. Meskipun demikian saat itu beberapa tempat masih menolak Anderson karena warna kulitnya.
Selama kariernya Marian Anderson telah menerima anugerah Lifetime Achievmant di Grammy Awards dan telah dilantik di President Award dan Modal of Art Kennedy Center. Marian Anderson juga dikenal sebagai pionir utama dalam hal olah vokal alto yang gelap untuk suara wanita. Banyak penyanyi yang terinspirasi oleh suara Anderson seperti solois Sara Vaughan, Aretha Franklin, Roberta Flack, Dina Washington, dan lainnya.
Pada tanggal 8 April 1993 Marian Anderson meninggal dunia pada usia 96 tahun, akibat gagal jantung yang ia derita di Portland, Oregon. Pada bulan Juni 1993, lebih dari 2000 orang penggemarnya menghadiri upacara peringatan di Carneggie Hall. Kisah Marian Anderson menjadi pengingat bahwa keberanian dan bakat dapat mengatasi diskriminasi dan rintangan, dan bahwa suara dapat menjadi kekuatan yang kuat untuk perubahan.



