Dua Tokoh Penjahit Sang Saka

1,025

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

beerita.id – “Sang saka merah putih”. Julukan ini diberikan kepada bendera merah putih yang dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945, di jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, saat proklamasi kemerdekaan.
Bendera pusaka ini dibuat oleh ibu Fatmawati (1923-1980), istri presiden Soekarno, pada tahun 1944. Bahannya terbuat dari katun Jepang (ada juga yang menyebut dari bahan wool dari London) dengan ukuran 274×196 cm.
Ibu Fatmawati menjahit sang saka merah putih dengan mesin jahit Singer yang dijalankan dengan tangan, karena dokter melarang ibu Fatmawati yang sedang hamil tua untuk menggunakan kaki untuk menggerakkan mesin jahit tersebut. Beliau tercatat sebagai pembuat dan penjahit pertama sang saka.

Foto : istimewa

Pada tahun 1948, tentara Belanda melancarkan serangan besar-besaran sebagai rangkaian dari agresi militer ke-2, dipimpin oleh Van Mook. Dalam waktu singkat, Yogyakarta di duduki. Bung Karno memanggil mayor H. Muthahar (1916-2004), yang mempunyai nama lengkap cukup panjang: Sayyid Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad Al Muthahar. Saat itu dia menjadi ajudan presiden Soekarno. Dia dipanggil oleh presiden dan kepadanya Soekarno berkata, “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku. Dengan ini aku memberikan tugas kepadamu pribadi, dalam keadaan apapun. Kuperintahkan kepadamu untuk menjaga bendera ini dengan nyawamu.”

- Advertisement -

Itu tertulis di buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat” karya Cindy Adams. H. Muthahar langsung menerima perintah presiden di masa genting itu.
” Bendera ini tidak boleh jatuh ke tangan musuh, ” kata Soekarno.

Bung Karno dan Bung Hatta ditawan oleh Belanda. Tak lama setelah itu, H.Muthahar pun ditangkap Belanda. Sebelum ditangkap, H. Muthahar memisahkan kain merah dan putih dari bendera agar tidak dikenali sebagai bendera pusaka. Ketika ditahan, H. Muthahar berhasil melarikan diri lalu menumpang kapal menuju Jakarta, kemudian bersembunyi di rumah Sutan Syahrir.

Di rumah inilah H. Muthahar menjahit kembali bendera pusaka dgn menyatukan kain merah dan putih. Setelah keadaan aman, diserahkanlah bendera sang saka kepada presiden Soekarno.

H. Muthahar dikenal juga sebagai pendiri Paskibraka, di samping sebagai seorang komponis, dan juga salah satu pendiri Pramuka.
Demikianlah kisah dua sosok yang pernah menjahit bendera sang saka merah putih.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.