Lebih Dekat dengan Kalemdiklat Polri Komjen Pol Arief Sulistyanto

791

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Beerita.id – Pembawaannya tenang. Di sela berbicara, sesekali senyum tersungging dari bibirnya. ”Alhamdulillah saya senang anak-anak kini sudah sukses dengan jalannya masing-masing,” katanya membuka obrolan.

Black coffee dan iced lychee tea menjadi teman obrolan kami petang itu di lounge sebuah hotel di Surabaya. Arief tampak santai. Long sleeve shirt Under Armour berpadu dengan sepatu kets membuat penampilannya terlihat sporty.

Meski seorang perwira tinggi dengan tiga bintang di pundak, jangan sangka bahwa putra Arief juga seorang polisi. Sebab, sejak awal, dia dan istrinya Niken Manohara yang seorang dokter, sepakat tidak ingin putra-putra mereka berkarir menjadi seorang polisi.

Bagi Arief, anak adalah kebanggaan. Dalam perkawinannya, pria yang berulangtahun setiap 24 Maret itu dikaruniai dua putra. Bhredipta Cresti Socarana dan Bhawika Tanggwa Prabuttama.

Si sulung sudah lulus dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dan telah menjadi seorang pengacara. Agustus nanti, dia akan memulai kuliah S2 di salah satu universitas bergengsi di Amerika Serikat karena mendapat beasiswa. Sedangkan anak kedua, kini sedang menjalani semester akhir di kampus yang sama dengan sang kakak, UGM.

Menurut Arief yang satu angkatan dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian itu, dukungan anak dan keluarga merupakan salah satu kekuatannya menghadapi tantangan pekerjaan. ”Saya bangga sekali. Ini membuktikan bahwa pendidikan dalam keluarga sangat menentukan karakter anak. Termasuk soal integritas,” jelasnya.

Kehangatan dalam keluarga memang sengaja dibangun Arief. Itu tidak lepas dari apa yang dia alami di masa kecil.

Ringankan Beban Orang Tua, Karir Terus Meroket

Lahir di Nganjuk dari pasangan Mardjono dan Halimah Saadiyah, Arief tumbuh sebagai pribadi yang cerdas, bertanggung jawab, dan beriman. Ayahnya adalah seorang guru agama. Kemandiriannya semakin terasah saat sang ayah tercinta wafat ketika ia baru berusia 14 tahun. Tentu itu pukulan yang sangat berat. Apalagi, Arief memiliki tiga adik yang masih kecil.

Karena tak mau menyusahkan sang bunda yang membesarkan kelima anaknya sendirian, selepas SMA Arief lebih memilih masuk Akabri ketimbang meneruskan sekolah ke perguruan tinggi.

Berkat doa Ibu dan usaha kerasnya, Arief terpilih menjadi satu-satunya nama dari Nganjuk yang berhasil diterima di Akabri pada tahun 1987. ”Saya yakin, dimana ada kemauan dan usaha keras, Allah akan berikan jalan,” katanya.

Prestasinya selama pendidikan sangat baik. Bahkan, di angkatannya Arief berhasil meraih peringkat empat. Peringkat satu diraih oleh Tito Karnavian yang kini menjadi Kapolri.

Lulus dari pendidikan, Arief yang seharusnya bisa memilih untuk ditugaskan di Jakarta agar karir cepat naik, malah memilih Jawa Timur. Alasannya, lagi-lagi karena ingin dekat dengan keluarga. Nyatanya meski berangkat dari Jawa Timur, karirnya tetap saja melesat. Itu tentu tidak lepas dari kemampuannya dalam bekerja.

Mengawali karir di Pamapta Polresta Surabaya Selatan, Polda Jawa Timur pada 1987, setahun kemudian, Arief sudah menjabat Kepala Unit Serse Polresta Surabaya Selatan. Pada 1989, dia menjadi Wakil Kepala Satuan Serse Polresta Surabaya.

Karirnya terus menanjak, dari Kepala Satuan Serse Polres Malang Polda Jatim pada 1990 hingga ditugaskan ke Polda Metro Jaya pada pertengahan ’90-an.

Dia pernah menjadi Kapolsek Bekasi Kota pada 1996 dan menjadi Kapolsek Pasar Minggu Jakarta Selatan dua tahun sesudahnya. 

Pada 1999, dia dipercaya menjadi Staf Pribadi Pimpinan (Spri) Kapolri Jenderal Roesmanhadi. Kemudian di tahun 2000, dia menjadi Spri Wakapolri. 

Arief muda (dua dari kanan), bersama Tito Karnavian (dua dari kiri). FOTO : dokpri

Menghadap Allah, Dukungan Istri

Dalam perjalanan karirnya, Arief terkenal bersih sekaligus kaya akan ide brilian. Beberapa catatan emas pernah dia torehkan saat bertugas, di antaranya ketika meraih posisi pertama saat Sespim (Sekolah Staf Pimpinan). Padahal, untuk masuk Sespim itu, Arief mengusahakannya sendiri tanpa menghadap siapapun.

Sudah menjadi rahasia umum, ada sebuah “tradisi” bahwa jika ingin masuk dan lulus Sespim, calon siswa harus membawa ketebelece dari pejabat. Bahkan, Arief yang saat itu belum lama melepas jabatan Spri Wakapolri sempat dipanggil menghadap Waka. ”Saya ditanya, kamu nggak perlu surat rekomendasi dari saya?” ujar Arief menirukan ucapan Wakapolri saat itu.

Dengan lugas Arief menjawab tidak. ”Tidak perlu Pak. Masak untuk urusan sekolah saya, harus bawa-bawa nama Bapak? Kan tidak enak,” ujarnya.

Begitu juga saat sang mertua yang merupakan pensiunan polisi bertanya padanya, sudah menghadap siapa untuk Sespim? Dengan tegas Arief menjawab “Menghadap Allah,” katanya.

Nyatanya meski tanpa memo dari siapapun, Arief berhasil lulus bahkan menjadi lulusan terbaik. ”Bayangkan kalau saya menerima memo, pasti prestasi ini tidak berarti apa-apa.”

Lulus dari Sespim, Arief tidak perlu menunggu waktu lama untuk penempatan tugas. Padahal saat itu dia pasrah mau ditempatkan di mana saja. Hal itu yang dia katakan pada salah seorang kawan, ”Jabatan atau penempatan dimana saja saya terserah. Bahkan jadi tukang lem amplop pun nggak masalah,” katanya lantas tertawa.

Hanya hitungan bulan dari Sespim dia mendapat kepercayaan untuk menjadi Kapolres di Indragiri Hilir Polda Riau. Bukan perkara mudah menjadi pimpinan di sana. Sebab, Kapolres sebelumnya dicopot karena dinilai tidak bisa mengatasi situasi chaos. Kantor Polres habis dibakar massa. Kepercayaan masyarakat kepada polisi sama sekali tidak ada.

Tapi, penempatan itu yang menjadikannya dewasa dalam bertugas. Bisa menghadapi berbagai situasi. Langkah awal yang dia lakukan adalah dengan membangun komunikasi dan kedekatan personal kepada para tokoh masyarakat.

Tak hanya itu, pria berzodiak Aries itu juga meminta bantuan pada sang istri yang menjadi dokter di lingkungan Polres. Dia membuat kartu dan membagi-bagikan kepada orang tidak mampu, entah itu kuli bangunan, buruh, hingga preman sekalipun. Siapa yang memegang kartu itu bisa mendapatkan akses kesehatan gratis.

Ternyata itu berdampak besar. Masyarakat menjadi respek. Bahkan, tidak sedikit info-info penting terkait keamanan dan kejahatan di masyarakat dia dapatkan dari istrinya.

Dua tahun lebih Arief menjabat di sana. Karena kedekatan yang sudah mendarah daging, ketika Arief dipindah tugas, beberapa tokoh masyarakat sampai nggandholi.

Gebrakan juga dia lakukan saat dipercaya menjadi Kapolres di Tanjung Pinang. Daerah yang awalnya dikenal sebagai pusat perjudian menjadi nol perjudian saat dia menjabat.

Arief saat masih berpangkat Irjen bersama istrinya dr Niken Manohara. FOTO : Dokpri

Selesaikan Kasus Besar

Namanya semakin terbukti bersih ketika dia menolak berkali-kali tawaran uang saat menjadi Dir II/Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri. Di masa inilah, banyak kasus besar yang dia tangani. Mulai dari kasus Cicak – Buaya, Rekening Gendut Polri, Gayus Tambunan, dan terbunuhnya Munir.

Di kasus rekening Gendut Polri, dia bisa menyelesaikan penghitungan yang tidak sinkron dilakukan PPATK. Di kasus Gayus Tambunan, Arief harus mengamputasi para penyidik yang memeriksa Gayus. Dan, Gayus yang semula sudah bebas, harus masuk tahanan lagi.

Dalam kasus Munir, timnya berhasil menerjemahkan secara ilmiah, bagaimana racun yang bekerja di tubuh Munir. Sehingga Pollycarpus yang semula bebas, terbukti sebagai pelaku pembunuhan Munir.

- Advertisement -

Tak berhenti sampai di situ, ketika menjadi Kapolda Kalimantan Barat, dia berhasil menangkap buronan kelas kakap Budiono Tan yang buron sejak tahun 2010. Tak hanya keluar, Arief juga tegas pada anak buahnya. Itu terbukti, ketika dia mempidanakan anak buahnya yang berpangkat AKBP karena suatu kasus.

”Bagi saya, anak buah adalah rekan kerja. Selain arahan, tentu saya juga harus memberikan teladan bagi mereka,” kata dia. 

Oleh Kapolri Tito, namanya sempat dipercaya menjadi Asisten SDM yang tentu memiliki pengaruh besar. Namun, amanah itu berhasil dia jalani dengan penuh konsistensi dan integritas. ”Tugas utama polisi adalah melindungi dan mengayomi masyarakat. Jadi lakukan itu dengan tulus, jangan sampai ada praktek koruptif, seperti jual beli jabatan.”

Berbicara soal jabatannya saat itu, yang dulu sempat dipandang masyarakat sebagai “tempat basah”, Arief berhasil menghilangkan citra tersebut.

”Saya dulu tidak mau memanfaatkan ketebelece, sehingga sekarang ketika amanah itu ada di pundak saya, tentu saya tanpa beban juga bebas menolak ketebelece dari seseorang,” tegas penikmat kopi hitam itu.

Di tangan Arief, proses rekrutmen SDM Polri mengalami pembenahan. Arief, yang saat itu berpangkat inspektur jenderal (irjen), memastikan penerimaan calon taruna dan taruni di Akademi Kepolisian (Akpol) dan calon siswa/i Sekolah Polisi Negara (SPN) bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Revolusi senyap Arief di tubuh Polri melahirkan banyak pujian dari masyarakat.

Arief selalu menikmati dimanapun dia ditempatkan. Karena baginya jabatan adalah amanah. FOTO : lemdikpolri

Bukan Perebutan Tahta

Pujian juga datang kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat mengangkat Arief menjadi Kabareskrim menggantikan Komjen Ari Dono Sukmanto yang dipromosikan menjadi Wakapolri. Arief dinilai menjadi sosok yang pas. Ketegasan dan integritas yang mumpuni dianggap bisa membawa Polri menjadi lembaga yang lebih baik lagi di masa depan.

Beberapa kasus berhasil dia selesaikan. Di antaranya kasus hoax Ratna Sarumpaet, surat suara 7 kontainer, dan beberapa kasus lain. Sayangnya, Arief tidak lama menjadi Kabareskrim. Hanya lima bulan saja.

Namun, hingga saat akan dirotasi, Arief tetap menggodok kembali mental reserse agar lebih profesional. Dia mewanti-wanti para reserse memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat, yaitu dengan cara menangani kasus secara cepat, tepat, dan akurat yang melahirkan kepastian hukum.

Digantinya Arief saat itu cukup menimbulkan polemik. Beberapa pihak bahkan menyayangkan keputusan itu. Dalam salah satu kicauannya, Yunus Husein pegiat antikorupsi yang juga mantan Kepala PPATK menulis “Sedih dan prihatin juga mendengar Kepala Bareskrim Komjen Arief S yang memiliki integritas dan kompetensi yang baik dan baru menjabat kurang satu tahun sudah diganti. Semoga Pak Arief tetap dapat mengabdi dengan baik kepada negara, bangsa dan rakyat Indonesia,” kicau Yunus.

Arief sendiri saat dikonfirmasi menyatakan perasaannya baik-baik saja. ”Saya dari awal tidak pernah menargetkan atau berambisi mau menjadi apa dan menjabat apa. Semua saya jalani dengan mengalir saja. Yang terpenting, dimanapun saya ditempatkan, saya akan bekerja sebaik mungkin. Untuk negara dan agama. Karena saya menganggap bekerja adalah bagian dari ibadah saya,” tegasnya.

Saat diganti, muncul isu di masyarakat bahwa pergantian itu tidak lepas dari kepopuleran Arief dan kemungkinan dia akan mendongkel Tito dari jabatan Kapolri. ”Padahal saya tidak ada niat sama sekali. Bahkan ketika isu itu berhembus, saya kaget bukan main.”

Lantas bagaimana hubungannya dengan Kapolri selepas pergantian jabatan? Arief langsung menjawab, tetap baik. ”Karena beliau adalah pimpinan sekaligus teman. Kami tidak hanya satu angkatan saat di Akabri dulu, tetapi juga rekan satu kamar,” jelasnya.

Karena itu, dia menyatakan kesetiaan dan dukungan sepenuhnya bagi Tito untuk mengemban amanah sebagai Kapolri. Dukungan itu sudah dia tegaskan sejak Tito baru akan dicalonkan. Saat itu, Tito, ujar Arief menghubungi dirinya dan mengabarkan akan dicalonkan menjadi Kapolri.

”Saya jawab, wah bagus dong. Selamat. Saya siap mendukung penuh.”

Dukungan itu lagi-lagi disampaikan Arief sesaat setelah dia dipindahtugaskan dari Kabareskrim ke Kalemdiklat. ”Saya sampaikan bahwa, saya memegang teguh amanah dari orang tua dulu, yakni jangan pernah menyakiti orang lain, dan jangan pernah berkhianat,” kata dia.

Bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam suatu perjalanan. FOTO : Dokpri

Apalagi, menjadi Kapolri ujar Arief ada mekanisme yang sangat ketat. Mulai pengusulan dari Wanjakti dan Kompolnas kepada Presiden. Kemudian setelah dikaji oleh Presiden selanjutnya mengajukan ke DPR untuk dilakukan fit and proper test sampai ke sidang pleno DPR. Setelah disetujui DPR baru dilantik oleh Presiden.

”Proses yang cukup panjang melalui mekanisme institusi. Tidak bisa dari kemauan pribadi, karena jabatan Kapolri itu bukan seperti perebutan tahta kerajaan yang bisa seenaknya orang mengambil alih seperti jaman sejarah Ken Arok dengan Tunggul Ametung,” jelas Arief.

Mimpi Bagi Anggota Polri

Menjabat sebagai Kalemdiklat memberikan pengalaman tersendiri bagi Arief. Melalui pendidikan dan pelatihan yang tepat, dia kini concern melahirkan anggota-anggota Polri yang profesional.  

Tak heran, saat pertama kali menjabat, dia langsung memperhatikan kurikulum pendidikan. Apa yang sudah usang ditelan jaman, dia kesampingkan untuk kemudian diganti dengan yang lebih sesuai.

Arief juga membuat gebrakan. Dia mengolaborasikan pendidikan secara konvensional dengan kecanggihan teknologi.

Pendidikan di segala jenjang menjadi perhatian serius. Terutama bagi para bintara. Sebab, menurut Arief, bintara adalah garda terdepan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. ”Polisi harus benar-benar bisa menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.”

Hobi dan Masa Depan

Di sela kesibukannya menjadi petinggi Polri, Arief tetap tidak lupa pada hobinya, yakni memotret. Bahkan, hobi itu sekalian dia jalankan saat bertugas ke beberapa daerah. Apalagi, jenis karya foto yang dia sukai adalah landscape atau memotret keindahan alam.

Dari layar handphonenya, Arief menunjukkan beberapa foto karyanya kepada Pemimpin Redaksi Beerita.id Panji D. Anggara.

Lantas ketika disinggung tentang bagaimana masa depannya, selepas memenuhi janji bakti pada Ibu Pertiwi sebagai anggota Polri, Arief menjawab ingin menikmati hidup.

Tidak tertarik terjun ke politik atau menjabat sebagai pejabat eksekutif di sebuah daerah? Arief menggelengkan kepala.

”Saya tidak mengejar apapun. Nantinya, saya hanya ingin memiliki waktu lebih untuk beribadah dan travelling bersama keluarga,” tutupnya.

Arief saat diwawancarai Pemimpin Redaksi Beerita.id Panji D. Anggara. FOTO : Beerita.id

(bee1)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.