Ledakan di Beirut Bumerang Bagi Pemerintah Libanon

1,015

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Beerita.id – Ledakan di Beirut, Libanon (4/8) mengingatkan dunia pada kondisi perang yang terjadi pada tahun 2006 silam. Kejadian itu membuka luka lama setelah Beirut tenang tanpa perang beberapa tahun terakhir. Puluhan gudang di Pelabuhan Beirut hancur tak tersisa. Menurut kesaksian warga sekitar, kerusakan akibat ledakan itu lebih buruk dari perang 14 tahun lalu.

Ribuan video amatir beredar di sosial media memperlihatkan ledakan susulan yang lebih besar. Ledakan kedua itu merubah kepulan asap yang semula berwarna abu-abu menjadi merah.

Sampai saat ini, Pemerintah Libanon masih menyelidiki lebih lanjut tentang penyebab ledakan. Sebelumnya, pemerintah setempat mengatakan gudang penyimpanan Ammonium Nitrat berjumlah 2750 ton lah yang menjadi penyebab tewasnya 100 orang dan 4000 luka-luka dalam ledakan itu. Pihak kepolisian setempat mengatakan sebuah kebakaran memicu ledakan.

- Advertisement -

Keberadaan bahan kimia itu membuat publik geram dan bertanya-tanya. Mengapa ribuan ton bahan peledak disimpan di sebuah gudang yang dekat dengan pemukiman padat penduduk selama lebih dari 6 tahun. Menurut sebuah artikel tahun 2015 di bulletin Shiparrested.com. Kapal Rhosus berbendera Moldova yang bertolak dari Georgia ke Mozambik tahun 2013 membawa bahan peledak itu. Sayangnya, karena masalah teknis mereka terpaksa berlabuh di Beirut dan meninggalkan seluruh muatan kapal.

Menurut bulletin itu juga, Pemerintah setempat dan pejabat yang berwenang harusnya dapat membuang atau mengamankan muatan. Pernyataan ini sejalan dengan otoritas pelabuhan dan pihak bea cukai. Ketika itu mereka telah memperingatkan pemerintah tentang bahaya keberadaan bahan peledak tersebut. Tapi tidak ada tindakan yang diambil.

Rabu malam (5/8) protes dilakukan di seluruh penghujung negeri. Sebagai bentuk kemarahan rakyat atas kelalaian dan gerak lamban pemerintah yang menciptakan medan perang lebih buruk. Membuat trauma lebih mendalam. Menurut data yang dimiliki oleh UNICEF sebanyak 300.000 orang kehilangan tempat tinggal mereka.

Perdana Menteri Hassan Diab mengatakan mereka yang bertanggung jawab akan dimintai pertanggungjawaban.

Kejadian itu menyusul kondisi rezimnya yang jatuh tersungkur setelah rangkaian protes rakyat karena krisis dan pengelolaan sektor ekonomi yang buruk berlangsung selama bertahun-tahun. Peristiwa ini tentu membawa kemarahan yang lebih besar. Mebawa Hassan menuju ke jurang tanpa dasar. Membuka peluang bagi kelompok anti-pemerintah untuk menyerang.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.