Mengenal Des Alwi, Seorang Pejuang Dari Banda Neira

3,490

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

beerita.id – Des Alwi Abubakar atau biasa dipanggil Des Alwi adalah seorang sejarahwan, diplomat, penulis, dan advokat Indonesia yang lahir dari kepulauan Banda Neira pada tanggal 17 November 1927. Des Alwi adalah cucu raja mutiara Said Badilla. Des Alwi adalah anak angkat dari Muhammad Hatta ketika Muhammad Hatta berada di pengasingan internal di Banda Neira.
Pada tahun1942 Des Alwi pergi ke pulau Jawa dan tinggal di Jakarta. Ketika berada di Jakarta dia sempat tinggal dirumah Sutan Sjahrir di jalan Latuharhary no 19 dan sempat berkenalan dengan salah satu keponakan Sjahrir yang paling menonjol yaitu Chairil Anwar, pernah juga tinggal dirumah Bung Hatta di jalan Diponegoro no 57.

Foto : istimewa

- Advertisement -

Des Alwi masuk sekolah teknik radio di Surabaya yang dibiayai oleh Muhammad Hatta, waktu itu belum terpikir oleh Des Alwi mengapa dirinya dimasukkan sekolah teknik radio, baru kemudian dia menyadari bahwa “Radio” ternyata begitu penting untuk bisa mengetahui semua perkembangan politik di dunia luar.
Di jaman pendudukan Jepang ketika Sjahrir harus pindah rumah ke jalan Maluku no 19 Des Alwilah yang mengurus kepindahan radio ilegal milik Sjahrir secara diam diam dan diangkut oleh Des Alwi dengan menggunakan delman pada siang hari tanpa diketahui tentara Jepang yang saat itu melarang orang menggunakan radio dan jika ketahuan akan disita oleh tentara Jepang, hanya radio umum yang boleh diperdengarkan masyarakat karena takut digunakan untuk mendengarkan radio dari negara-negara sekutu.
Melalui telinga Des Alwi, sebab dialah termasuk orang yang mula mula mendengar soal menyerahnya Jepang kepada sekutu tepatnya pada tanggal 15 Agustus 1945 disiang hari, saat itu Des Alwi mendengar kaisar Jepang berpidato dan menyinggung soal penyerahan tanpa syarat dan berita ini cepat menyebar hingga banyak orang mendesak proklamasi kemerdekaan segera di kumandangkan, berita proklamasi bikin kempeitai Jepang marah dan Des Alwi salah satu orang yang ditangkap walau hanya sebentar dan setelah bebas Des Alwi langsung diperintahkan ke Surabaya. Di Surabaya sebagai anak muda Ia berpartisipasi dalam pertempuran 10 November 1945, Des Alwi menjadi petugas komunikasi dalam kesatuan Pemuda Republik Indonesia (PRI) dan terluka dalam sebuah ledakan mortir.

Foto : istimewa

Pada awal 1946 Des Alwi berangkat ke Yogyakarta di Yogyakarta Des Alwi bertemu kembali dengan dua bapak angkatnya Bung Hatta yang jadi wakil presiden dan Sjahrir yang menjadi perdana menteri.
Pada tahun 1947 Des Alwi dikirim belajar di Regent Street Polytecnic kemudian belajar di British Institute of Technology London sambil kerja praktik di BBC.
Dua tahun kemudian ketika Konferensi Meja Bundar (KMB) diselenggarakan di Den Haag, Des Alwi menjadi salah satu staf delegasi Indonesia membantu kolonel Simatupang dan Mayor M.T Harjono.
Des Alwi juga termasuk orang yang membantu Ali Moertopo dalam menyelesaikan konfrontasi Indonesia – Malaysia.
Di era orde baru Des Alwi tidak dikenal sebagai operator radio tapi lebih dikenal sebagai seorang pengusaha dan pruduser film, salah satu film yang dibuatnya tentang Bung Hatta yang biasa disapa oleh Des Alwi sebagai Om kacamata. Selain itu Des Alwi juga menulis buku buku sejarah seperti sejarah Maluku; Banda Neira, Ternate, Tidore dan Ambon serta sebuah buku dengan judul Masa lalu penuh gejolak. Des Alwi pernah dianugerahi bintang Mahaputra.
Des Alwi tutup usia pada tanggal 12 November 2010 di Jakarta pada usia 83 tahun dan dimakamkan di tanah kelahirannya di Banda Neira dengan pemakaman Militer.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.