Siapkan Tisu! Kisah Sukses Widi yang Sangat Menginspirasi

1,436

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Beerita.id – ”Anak haram… Anak haram…. Anak pungut… Anak pungut.” Ejekan-ejekan itulah yang kerap terdengar oleh Widi saat dia masih kecil. Namun pemilik nama lengkap Widi Adia Nugraha yang saat itu masih duduk di bangku SD tersebut tidak menanggapi ejekan dari teman-temannya itu. Karena yang dia tahu, dia memiliki orang tua yang sangat sayang dan perhatian di rumah.

Namun, gencarnya ejekan itu mau tidak mau juga menimbulkan pertanyaan dalam dirinya. Benarkah dia anak pungut? Benarkah dia anak haram? Seperti yang kerap dilontarkan oleh teman-temannya.

Bukan tidak pernah Widi menanyakan hal itu kepada ibu maupun bapaknya, tapi jawaban yang dia dapatkan sama : hanya gelengan kepala.

Waktu begitu cepat berlalu hingga Widi duduk di kelas 1 SMA. Dia tumbuh menjadi anak yang cerdas. Kemampuan keluarganya yang pas-pasan tidak menjadikan dia sosok yang malas untuk belajar. Kecerdasannya tumbuh di atas rata-rata.

Hingga suatu ketika, di suatu sore yang mendung, Widi ketika itu baru saja pulang sekolah. Sang ibu menyuruh untuk membelikan sesuatu di warung dekat rumah. ”Uangnya ambil di lemari,” perintah Ibunya.

Widi pun lantas membuka lemari itu. Jika tanpa disuruh tak mungkin secara lancang dia membuka lemari milik orang tuanya. Tapi, mungkin ini jalan Tuhan untuk menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi. Skenario telah tertulis.

Ketika akan mengambil uang di lemari, secara tidak sengaja sudut mata widi melihat selembar kertas yang terlaminating. Penasaran dia pun melihat dan membaca kertas itu. Betapa kagetnya, ternyata kertas itu merupakan surat adopsi yang tertera jelas namanya adalah Widi Adia Nugraha.

Ya, itu adalah nama dia sendiri. Bak petir di siang bolong. Widi terguncang. Dunia serasa runtuh.

Kakinya mudanya yang sehat karena kerap diajak berolahraga seakan tak mampu menopang badannya. “Berarti selama ini yang diucapkan teman-teman benar. Saya anak pungut. Saya anak haram. Kalau iya, siapa orang tua saya? Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa saya bisa berada di keluarga ini?” rentetan pertanyaan itu mengganggu pikiran Widi.

Widi di antara dua malaikat yang selamatkan hidupnya. FOTO IG Pribadi

Tapi, ketika tak sengaja lagi matanya melihat uang yang ada di genggaman. Widi tersadar. Dia telah diperintah Ibunya. Maka, dia letakkan lagi kertas itu dan menuju warung.

Selama perjalanan pikirannya melayang entah kemana. Asumsi-asumsi memenuhi otaknya. Sampai akhirnya, di malam hari Widi memberanikan bertanya pada ibu dan bapaknya perihal surat itu. Ibunya hanya menangis. Bapak pun diam seribu bahasa. Ketika itu, di rumah sedang ada bibi. Sang bibi lah yang kemudian secara tegar menjelaskan siapa widi sebenarnya, bagaimana asal usulnya.

Mendengar penjelasan itu. Widi bukan tenang. Jiwa mudanya bergejolak. Dia ingin teriak. Dia ingin meluapkan segala kegundahan hati. Tapi pada siapa? Widi hanya bisa kembali ke kamarnya, mematikan lampu, kemudian memejamkan mata yang tak jua terlelap.

Semua bermula di tanggal 2 Oktober 1991. Sebutlah perempuan itu bernama Mawar. Diantarkan oleh kedua orang tuanya, Mawar menuju bidan. Tangisnya tak mau juga hilang. Air mata terus berjatuhan di pipi.

Selain menahan sakit karena akan melahirkan, Mawar juga menahan beban berat dalam hidupnya. Anak yang dia kandung merupakan hasil hubungan gelap. Tentu, itu tidak bisa diterima oleh keluarganya. Tapi Mawar tak kuasa melawan. Dia tahu kesalahan yang diperbuat sangat parah. Mawar hanya pasrah saja ketika akhirnya harus rela berpisah dengan anak yang dia kandung secara sembunyi-sembunyi selama berbulan-bulan.

Tak sampai 24 jam bayi itu berada di sampingnya. Karena kedua orang tua Mawar sibuk mencarikan siapa yang akan mengadopsi bayi tersebut. “Jangan sampai tetangga dan saudara tahu kalau kamu sudah punya anak!” hanya kata itu yang terus menerus didengar Mawar.

Bersama Ibu Angkat tercinta. FOTO : IG pribadi

Tepat tanggal 3 Oktober, datang seorang pasangan suami istri yang berniat untuk mengadopsi. Pria itu bernama Rahmat dan istrinya bernama Dawiyah. Keduanya bukan orang kaya. Rahmat hanya seorang tukang sampah. Tapi keinginan mereka memiliki buah hati sekaligus merasa iba melihat anak yang tidak berdosa ini harus terkatung-katung nasibnya, membuat keduanya memutuskan untuk mengadopsi. ”Ibu bahkan sampai menjual gelang satu-satunya agar bisa mengadopsi saia,” kata Widi.

Di situlah, tepat di hari itulah Widi berpindah tangan. Harus berpisah dengan ibu kandungnya yang hingga saat ini belum pernah dia temui lagi.

Menurut penuturan Widi. Rahmat dan Dawiyah membesarkan dia dengan sangat luar biasa baik. Kebutuhan Widi coba dicukupi walau tentu itu memberatkan. Apalagi, sebagai anak angkat, Widi tidak bisa meminum ASI melainkan susu formula. Tapi Rahmat tak pernah mengeluh. Dia bekerja lebih keras agar bisa memenuhi kebutuhan anaknya.

Begitu juga ketika sekolah, Widi yang saat itu akan lulus terhalang karena rapotnya tidak bisa diambil sebab belum membayar SPP. Tentu Dawiyah kerepotan. Dia tidak ada uang sama sekali di tangan. Meminjam kepada saudara atau tetangga tentu tidak mudah.

Akhirnya, segala barang elektronik yang ada di rumah dia jual untuk menutupi kebutuhan uang SPP Widi. Dispenser, setrika dan beberapa elektronik lain sukses berpindah tangan dengan harga murah.

- Advertisement -

Dawiyah dan Rahmat membesarkan Widi dengan nilai-nilai agama yang kuat. “Saya ingat yang dikatakan bapak adalah kita boleh miskin saat ini, tapi kita tidak boleh lelah mengejar rahmat Allah SWT,” ujarnya menirukan ucapan sang Ayah.

Dasar pendidikan agama yang kuat itulah yang kelak menyelamatkan Widi dari keterpurukan.

Kembali ke kenyataan saat Widi menerima fakta bahwa dirinya merupakan anak angkat, hari-harinya menjadi gelap. Dia tidak terbayang bahwa hidupnya akan sepahit itu. Dia merasa tertolak. Kehadirannya di dunia tidak diharapkan. Bahkan oleh ibu dan keluarga besar lainnya. “Lantas buat apa saya hidup?” pikirnya.

Foto keluarga usai Widi wisuda S 2. FOTO : IG Pribadi

Bayang-bayang ingin mengakhiri hidup selalu menemani tiap langkahnya. Karena itu, ketika dia membawa motor misalnya. Dia memacu cepat kendaraannya. Yang ada dalam pikirannya saat itu adalah dia tabrakan, kecelakaan, lantas meninggal. Berhari-hari dia lakukan itu.

Sampai suatu ketika, dia tersadar. Bahwa apa yang dia alami saat ini, adalah takdir dari Maha Kuasa.

Mulai dari situ Widi bisa menerima kenyataan. Apalagi, dia juga harus bersyukur karena dibesarkan dan dididik dengan penuh kasih sayang oleh orang tua angkatnya.  Memang limpahan materi tidak dia dapatkan. Tapi setidaknya dia bisa tumbuh menjadi sosok yang cerdas serta memegang teguh nilai agama.

Widi masih ingat benar sejak kecil dia tidak ingin merepotkan orang tuanya. Baginya kantin adalah hal mewah. Selama duduk di bangku SMA saja, mungkin tidak sampai 10 kali dia jajan di kantin. Selebihnya dia selalu membawa bekal dari rumah.

Widi juga tak segan membantu perekonomian orang tuanya. Sejak kelas dua SMA, dia menjadi pelayan di pesta-pesta pernikahan. Tugasnya adalah mengambil dan membersihkan piring kotor. Tapi Widi bangga dengan hal itu. Walau terkadang air liurnya menetes melihat menu yang tersaji di depan matanya.

Menjadi pelayan itu pula yang kemudian menjadi bahan ejekan baru bagi teman-temannya. Tapi untungnya, ejekan itu tak membuatnya down. Karena, sejatinya ejekan yang lebih menyakitkan dari itu sudah dia rasakan. ”Saya terima hinaan itu, semoga bisa menguatkan langkah saya menapak masa depan,” ucapnya dalam hati.

Ketika kelas 3 SMA, saat siswa-siswa lainnya sibuk konseling ke guru BK atau sibuk browsing mau kuliah dimana, Widi memiliki kesibukan lain. Dia sibuk mencari info lowongan kerja. Beberapa teman yang dia ketahui memiliki orang tua kaya tak lupa dia tanya. ”Bapaknya butuh OB tidak?”

Ya, selepas SMA Widi hanya bercita-cita menjadi seorang office boy saja. Supaya bisa mendapatkan penghasilan sendiri. Dia sadar lulusan SMA tidak bisa bekerja dengan posisi yang tinggi. Keterbatasan ekonomi telah mengubur dalam-dalam mimpinya untuk kuliah.

Tapi lagi-lagi Tuhan menunjukkan kuasanya. Ibu angkatnya yang demi menyekolahkan Widi sampai harus bekerja menjadi baby sitter di sebuah keluarga yang kaya, tiba-tiba memanggil Widi. Menyampaikan pesan, bahwa keesokan harinya Widi dipanggil sang majikan.

”Kamu mau kuliah? Tanya sang majikan. Widi tak berani menjawab. Dia hanya melirik ibunya kemudian menunduk lagi. ”Kalau kamu memang mau kuliah, dan benar-benar serius, saya akan membiayai. Kamu sekarang carilah kampus yang sesuai,” kata majikan.

Widi terhenyak. Gemuruh di dadanya begitu terasa. Tak terasa air mata jatuh. Mimpinya terkabul. Dia bisa kuliah. Di ruang tamu itulah, tanpa mengucap sepatah katapun Widi sujud syukur lantas memeluk ibunya.

Universitas Indraprasta PGRI Jurusan Pendidikan Sejarah menjadi tempatnya menimba ilmu. Dia mampu menyelesaikan S1 dengan tepat waktu. Selama kuliah pun Widi mencoba mencari celah pemasukan. Dia tidak ingin majikan ibunya terus menerus memberikan uang. Dia ingin mandiri.

Widi kini sukses menjadi CEO sebuah lembaga pendidikan. FOTO : IG Pribadi

Pucuk dicinta ulampun tiba. Di semester 3 dia sudah dipercaya memberi kursus di salah satu lembaga bimbingan belajar (bimbel). Tak menunggu waktu lama, pada semester 4 Widi menghadap majikan Ibunya untuk menyampaikan terima kasih seraya mengucapkan bahwa tidak perlu lagi menyumbang uang kuliah. Sebab dirinya sudah bisa mencari nafkah sendiri.

Lulus dari S1, Widi mendapatkan tawaran menjadi manager sebuah lembaga bimbingan belajar. Lagi-lagi, tanggung jawab itu bisa dia jalankan dengan baik. Bahkan, di sela kesibukannya, Widi masih sempat menimba ilmu ke jenjang S2, tepatnya jurusan Administrasi Pendidik di Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka.

Berkat kegigihannya, pendidikan S2 juga berhasil dia lalui tanpa tantangan berarti. Kini, Widi justru lebih berani lagi dalam bidang pekerjaan. Dia menjadi CEO sebuah lembaga pendidikan yang dia kelola sendiri. Hidupnya telah mapan.

”Dulu saya sempat berpikiran, Allah kok jahat sekali ya sama saya. Sudah dibuang orang tua, hidup miskin lagi. Ternyata, apa yang saya pikirkan salah. Allah ternyata baik sekali. Dia membentuk karakter saya agar bisa menjadi hamba yang taat dan terus bersyukur,” jelasnya.

Lantas, ketika ditanya apakah ada niat mencari ibu kandungnya? Dengan tegas Widi menjawab sangat ingin.

Tapi Widi memiliki pikiran lain. Bukan, bukan karena dendam. Widi telah ikhlas. Yang dia khawatirkan justru kebahagiaan Ibunya. Karena ketika dia memilih bertemu ibunya. Ibunya tentu sudah memiliki keluarga baru. Nah dia tidak mau menyakiti hati keluarga baru. Entah itu bapak maupun adik tirinya. Biarlah rindu itu dia pendam dan dia sampaikan dalam bait-bait doa yang dilantunkan kepada Tuhan. Jika rindu pada Ibu sangat memuncak, Widi hanya memandangi surat adopsi. Dielusnya tanda tangan sang Ibu yang itu merupakan pengejawantahan dari kehadiran Ibunya di dalam kehidupannya.  ”Semoga Tuhan selalu memudahkan kehidupan Ibu saya.”

Get real time updates directly on you device, subscribe now.