Goresan HamidHeadline

Tersesat di Kota Mode

beerita.id – Pagi hari dalam kunjungan saya di hari ke tiga di kota Paris kami bangun pagi agak kesiangan, ini disebabkan karena semalam seluruh tamu di hotel Terminus tempat kami menginap terbangun dan semua tamu hotel keluar lewat tangga, hal ini dikarnakan alarm hotel berbunyi terus menerus dengan suara yang keras, semua tamu hotel berkumpul di lobi, wah hotel terbakar pikir saya ternyata resepsionis yang agak angkuh menerangkan bahwa ada seorang tamu yang menggunakan rokok shisa dikamarnya, oleh sebab itulah sensor alarm berbunyi. Kejadian inilah yang mengganggu istirahat kami.

Di pagi hari setelah merapikan barang-barang yang ada di kamar hotel saya dan seorang sahabat yang baik mencari taksi untuk menuju Rive Droite Seine, kali ini tujuan kami adalah museum Louvre, museum dengan arsitek berbentuk piramid yang terbuat dari kaca yang sangat terkenal, di museum ini lukisan Monalisa di pamerkan. Setelah puas berkeliling di sekitar Louvre kamipun bergegas menuju katedral yang sangat terkenal di dunia yaitu Notre-Dame de Paris. Kami tidak mendapat kesulitan ketika meminta tolong jasa taksi untuk mengantar, supir taksi pun mengerti ketika saya mengatakan Notre-Dame langsung sang supir mengangguk. Sang supir pria yang berasal dari Timur Tengah yang Ramah langsung mengantarkan kami. Di Paris kita banyak menemui orang-orang yang berasal dari Timur Tengah yang bekerja di negara ini dan umumnya mereka berasal dari negara bekas jajahan Perancis seperti Aljazair.

Kami menikmati katedral yang lagi direnovasi akibat kebakaran pada tahun 2019. Setelah kami berkeliling di daerah sekitar dengan berjalan kaki melewati sungai Seine dan melihat penjual buku-buku loak dan sebagainya.

Hari menjelang sore dan rasa cape kami rasakan, mulailah kami memikirkan bagaimana cara kami kembali ke hotel. Kami sepakat untuk menaiki bus mungkin bus ini akan melewati hotel tempat kami menginap atau setidaknya bisa berhenti tidak jauh dari hotel kami.

Maka jadilah kami berdua menaiki bus sambil menikmati bangunan kota, lambat laun kota terlihat lebih lengang, bus mulai melewati jalan-jalan yang agak sempit, naluri saya pun berkata bahwa bus yang kami tumpangi tidak menuju ke arah hotel tapi sebaliknya menuju ke arah yang berlawanan yaitu ke arah pinggiran kota, maka kami memutuskan untuk berhenti di halte terdekat.

Dalam suasana yang agak sedikit bingung kami mencoba untuk bertanya kepada seorang gadis yang sedang menunggu bus, diluar dugaan gadis ini sangat ramah dan relah mengantar kami berdua menuju ke stasiun bawah tanah yang berjarak sekitar 60 meter dari halte dimana tadinya ia berdiri menunggu bus. Gadis ini bernama Lina ia seorang pelajar SMA di kota Paris, ia begitu baik dan sangat jelita. Setelah kami berpamitan dan mengucapkan terima kasih atas semua kebaikannya kami bergegas untuk turun ke stasiun bawah tanah. sebelum turun saya melihat taksi dan rencana naik kereta Metro kami urungkan dengan pertimbangan kami harus membeli tiket dan menunggu maka lebih praktis naik taksi.

Kami menuju hotel untuk mengambil barang-barang kami dan terus menuju stasiun kereta untuk pergi ke negara terdekat tentu untuk membuat satu petualangan yang lain. Di dalam kereta pikiran saya masih terbayang tentang kejadian yang saya alami di kota mode itu dan saya berfikir betapa senangnya tersesat disebuah kota yang asing dan menjadikan ini sebuah pengalaman yang nyata dan bukan sebuah mimpi.

Related Articles

Back to top button