TOKOH SENI LUKIS MODERN INDONESIA

2,380

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

beerita.id – Raden Saleh Syarief Bustaman lahir di Turboyo, desa kecil dekat Semarang pada tahun 1811. Lahir dari seorang ayah bernama Sayyid Husain bin Alwi bin Yahya dan ibunya bernama Raden Ayu Syarief Husain bin Alwi bin Awal dari keluarga peranakan Arab yang nenek moyangnya berasal dari Yaman. Sayyid Husain alias Kyai Jungke, alias Wangsa Naya adalah guru agama dan cendikiawan muslim.

Foto :

Orang terkadang menyebut pelukis Raden Saleh dengan sebutan Raden Saleh Syarief Bustaman, sebenarnya Syarief adalah gelar, Bustaman sendiri nama sebuah kampung dimana Raden Saleh dilahirkan di Semarang. Nama sang pelukis sendiri Salah bin Husain bin Yahya.
Minat Raden Saleh terhadap kesenian sangatlah besar, mulai terlihat dari usia kanak kanak sampai berguru kepada pelukis Belanda seperti Antoine Aguste Joseph Payen (1792-1853). Raden Saleh kecil saat itu dipanggil dengan nama Syarief Saleh.


Pada tahun 1829 mulailah perjalanan Raden Saleh ke Eropa tepatnya di Den Haag negeri Belanda. Ketika berada di Jerman Raden Saleh tinggal di Maxen desa kecil dekat Dresden dan hampir 7 tahun tinggal di Jerman (1839-1845) Raden Saleh merupakan orang Jawa pertama yang menimba ilmu di Eropa.


Di Maxen inilah Raden Saleh tinggal di kastil milik Frederic Anton Serre, pensiunan walikota, tuan tanah dan juga penampung seniman. Raden Saleh menganggap Serre sebagai orang tua kedua dan karena kedekatan keduanya dan untuk menghormati Raden Saleh maka dibangunlah sebuah mesjid kecil yang berarsitek Jawa, Eropa dan timur tengah. Masjid ini temboknya berwarna kebiru-biruan maka masjid tersebut dinamakan masjid Biru.

Foto :

Di atas pintu masuk masjid biru itu tertulis kata kata Raden Saleh dengan aksara Jawa dan Jerman, “Muliakan Allah dan Cintailah Sesama Manusia”. Perjalanan Raden Saleh ke Eropa tidak berhenti sampai di Jerman tapi sampai ke Paris dan Afrika Utara.


Lukisan Raden Saleh yang sangat terkenal dan menjadikan lukisan ini tak ternilai harganya adalah lukisan historis tentang penangkapan Diponegoro. Uniknya dalam lukisan tersebut Raden Saleh dengan sengaja memasukkan sosok dirinya dalam dua figur kedalam lukisan ini, satu sosok Raden Saleh dalam ekspresi menunduk penuh takzim/hormat kepada sang sultan yang masih kerabat sang maestro, dan sosok yang satu lagi digambarkan Raden Saleh memandang dengan geram yang di ibaratkan sebagai sindiran seorang saksi dalam penghianatan yang memalukan , karena saat itu sang pangeran diajak panglima tertinggi Belanda di Hindia Belanda yaitu Jendral De Kock untuk berunding tapi pihak Belanda telah menyiapkan penyergapan untuk menangkap Sultan Abdul Hamid Diponegoro.


Begitulah ringkas cerita dari Raden Saleh seorang bapak seni lukis modern Indonesia. Dan pada tanggal 23 April 1880 Raden Saleh meninggal dunia dimakamkan di kampung Arab Empang Bogor. Peninggalan Raden Saleh diantaranya Rumah Sakit Cikini dan Taman Ismail Marzuki (TIM).

Get real time updates directly on you device, subscribe now.